KODE-4

Thursday, May 10, 2007

ARBY SAMAH

Kesetiaan Pematung Abstrak

Di usia lanjut gairah kesenimanannya masih tinggi. Tanggal 1 April 2002 ia akan genap 69 tahun, tetapi ia masih cekatan memainkan pahat dan palu di atas potongan kayu mahoni. Kata orang, karya patungnya bergaya abstrak.

Bila menyebut patung abstrak, orang lantas teringat Arby Samah. Kesetiaannya berkiprah, dan komitmen-nya terhadap gaya patungnya di tengah pasar seni yang semakin kompetitif, tak pernah luntur.

“Sekali abstrak tetap abstrak. Itulah eksistensi seorang Arby Samah,” ujarnya bangga, kepada Kompas, Jumat, 7 Desember 2001, malam.

Meski karyanya pernah dicaci-maki oleh kalangan seniman di tahun 1955-1957, yang waktu itu marak dengan aliran realisme-sosialis, Arby Samah tidak pa-tah arang. Ia bergeming walau Presiden Soekarno me-nyatakan tak suka patung abstrak, ketika membuka pameran seni rupa se-Indonesia. Arby tidak berpaling ke gaya yang lain.

“Meski dicaci-maki dan tak disukai Presiden, tekad saya sudah bulat; apa pun kendala akan dihadapi dan tetap setia dengan gaya abstrak, dan itu berlangsung sampai sekarang,” jelas seniman kelahiran Pandai-sikek, Sumatra Barat ini.

Pernah juga kemudian Arby mencoba-coba mena-warkan karyanya ke Presiden Soeharto, sekitar tahun 1997, yang didapatnya juga penolakan. Alasannya tetap sama, abstrak!

Menurut Arby, ia berkarya bukan untuk Presiden, tetapi ingin menunjukkan kepada publik pencinta kesenian di Tanah Air.

Kualitas dan kreativitas sosok Arby Samah seperti terwakili dalam karya-karyanya, yang sempat menjadi momentum tersendiri bagi perkembangan seni patung di Indonesia. Ia, ketika itu, terkenal sebagai “menara seni patung modern Indonesia”.

Ada yang menarik dan spesifik dari patung-patung karya Arby Samah ini. Dari judul-judul patungnya, seperti “Gadis Desa”, “Ibu dan Anak”, “Gadis Kota”, “Gadis dan Anak”, “Sejoli”, “Wanita Kupang”, “Gadis di Bukit Karang”, “Tetesan Bunda”, “Dua Gadis” dan “Mulanya Terjadi”, bisa ditebak betapa kaum perempuan mendapat tempat betul dalam karya-karyanya.

Apa karena ia punya lima anak perempuan, yang kini semua sudah sarjana dan memberinya lima orang cucu?

“Tidak, karena itu,” jawab Arby. “Tetapi lebih karena melihat dan menyelami kehidupan manusia, terutama perempuan, yang perannya sangat luar biasa, lebih-lebih setelah berumah tangga dan bahkan dalam bebe-rapa hal tidak tergantikan.”

Menurut alumnus INS Kayutanam dan ASRI Yog-yakarta ini, pemahamannya terhadap perempuan, se-cara simbolik dan filosofis bisa dicermati dari karya-karyanya yang terkesan lembut, tidak eksotik. Dalam karya-karya Arby, perempuan lebih dominan dimaknai sebagai subyek daripada obyek.

Arby menyebutkan, patung karyanya merupakan perpaduan hati nurani, imajinasi, dan pikiran.

“Saya mempunyai keyakinan, bahwa seorang seni-man itu harus mempunyai imajinasi dan daya visuali-sasi yang kuat. Kemudian hal ini dipadukan dengan hati nurani dan pikiran, sehingga melahirkan karya yang sarat makna dalam berbagai dimensi,” ung-kapnya.

Sewaktu semua temannya asyik dalam suasana seni realisme, justru Arby adalah semangatnya untuk memulai sesuatu yang “baru”. Ia menyadari, pilihan-nya terhadap gaya yang abstrak, yang “baru” itu mengandung risiko tidak disenangi orang, karena agak sulit dimengerti, sulit dijual, dan sebagainya. Namun, tekadnya bulat.

Semangatnya semakin menggebu-gebu, ketika ada yang menawari untuk berpameran tunggal dan ber-sama. Tahun 2001, ia sudah tiga kali berpameran, yakni di Galeri Lontar, Jakarta (11-31 Agustus), di Duta Fine Art Foundation, Kemang, Jakarta (6-30 Sep-tember), dan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (20 November-4 Desember). Tahun 2002 ia akan berpa-meran tunggal lagi di Duta Fine Art Foundation.

Menurut dia, sambutan publik sudah agak berubah. Cita rasa masyarakat terhadap gaya patung-patung Arby Samah sudah jauh bergerak ke depan meninggalkan konvensi-konvensi yang sudah mapan.

“Jika dulu patung-patung saya dianggap menara seni patung modern Indonesia, sekarang menara itu tidak terlalu tinggi lagi, karena ada menara-menara baru yang dibangun orang lain. Satu hal yang meng-gembirakan, seniman patung yang dulunya berse-berangan dengan saya karena beraliran sosialis-realisme, kini sudah cenderung pula bergaya abstrak,” tambah Arby Samah.

Karya-karya patungnya kini menjadi incaran dan banyak dikoleksi oleh berbagai instansi, museum, mau pun perseorangan. Bahkan, Bung Karno yang pada mu-lanya terus terang menyatakan tak suka patung abstrak, diam-diam mengoleksi salah satu patung karyanya.

Kekuatan karya Arby Samah yang mantan Kepala Bidang Kesenian di Kanwil Depdikbud Sumatra Barat (1971-1989) dan mantan Kepala SMSR Negeri Padang (1989-1993), menurut seniman dan budayawan Wisran Hadi, bukan terletak pada konsepsi keindahan yang serba tematis, halus sampai mendetail. Akan te-tapi, pada gagasan, ide, ekspresi, pengolahan bentuk-bentuk, atau keliaran-keliaran garis pada pahatnya. Arby sudah menghasilkan sekitar 200 buah patung.

“Kini masih banyak patung yang belum terealisasi. Ide dan gagasan sudah saya tuangkan dalam bentuk sket-sket di kertas, tinggal memindahkan ke bahan kayu (mahoni atau cempedak),” jelas suami Hj Murtina Arby ini.

Arby Samah yang lengkapnya bernama H Arby Samah Datuk Majo Indo, selama ini lebih dikenal seba-gai pematung daripada pelukis. Padahal, kegiatan me-matung dan melukis, sedari dulu sampai sekarang te-tap berjalan beriring.

Ketika belajar di Yogya, Arby mendapat ilmu melukis dan sketsa dari Hendra Gunawan. Ia pernah menjadi pelukis jalanan di Malioboro dan Stasiun Tugu. Ma-nusia yang sibuk lalu lalang, serta orang-orang yang sedang bekerja mengganti api batu bara lokomotif, waktu itu, adalah obyek yang paling banyak diker-jakannya. Karya-karyanya terhitung realis pada waktu itu, disenangi dan dipuji oleh Hendra, Sudarso, Widayat, dan Trubus. Keempatnya kelak dianggap sebagai tokoh-tokoh seni Indonesia.

Sebelum belajar ke ASRI Yogya tahun 1953, tahun 1948-1950 ia ikut angkat senjata sebagai tentara pe-lajar, divisi INS Kayu Tanam. Belakangan ia bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia di Solok Selatan.

Setelah penyerahan kedaulatan tahun 1950, Arby menjadi guru sekolah agama di Padangpanjang dan Bukittinggi. Ia juga bekerja sebagai tenaga sukarela pada Gedung Kebudayaan Sumatra Tengah di Padang-panjang. Antara tahun 1960-1993 sejumlah pekerjaan ia jalani, antara lain menjadi pegawai pada Museum Angkatan Darat di Yogyakarta, pegawai negeri sipil pada Direktorat Jenderal Kebudayaan di Jakarta.

Kemudian, Arby balik ke Sumatra Barat sebagai Kepala Bidang Kesenian Kanwil Dikbud Sumatra Barat, terakhir menjadi Kepala SMSR Padang. Setelah men-jalani masa pensiun tahun 1993, Arby kembali aktif berpameran patung dan lukis. Rumahnya di Padang pun dijadikan galeri.*

SUMBER (Yurnaldi) Kompas, Senin, 10 Desember 2001