KODE-4

Monday, April 14, 2014

KUNJUNGAN WISATAWAN MENINGKAT: Persepsi Internasional Terhadap Indonesia Membaik

Berdasarkan hasil sejumlah survei lembaga internasional, persepsi terhadap Indonesia juga mengalami perkembangan positif. Lembaga rating internasional terkemuka seperti Ficth Rating, Rating and Investment Information. Inc, Japan Credit Rating Agency, Standard and Poor’s (S&P), Modys Investor Servise telah menempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi jangka panjang (investment grade).
Fitch Ratings mengumumkan pada bulan November 2013, memperkuat peringkat Indonesia menjadi BBB-  dengan outlook stabil. Sebelumnya, Oktober 2013 lembaga Rating and Investment Information Inc. juga memberikan penilaian BBB-/ stable outlook. Begitu juga dengan Japan Credit Rating Agency Ltd. pada Juli 2013 memberikan peringkat BBB- with stable outlook untuk Indonesia.

Dua lembaga rating lainnya S&P dan Moody’s sejak 2012 lalu tetap mempertahankan rating Indonesia di posisi yang aman untuk investasi jangka panjang, masing – masing dengan penilaian BB+ level for long-term dan Baa3 with stable outlook.
Hasil survei terbaru oleh Japan Bank International Corporation (JBIC) menyebutkan, Indonesia berada dalam peringkat tertinggi dalam persepsi pelaku bisnis global sebagai negara tujuan investasi dalam jangka menengah atau sekitar 3 tahun ke depan. Dalam survey JIBC yang melibatkan 488 pelaku usaha sebagai responden pada 2013 lalu, meminta responden untuk memilih 5 negara yang dinilai memberi prospek investasi yang layak dipertimbangkan dalam jangka waktu lebih 3 tahun ke depan.
Hasilnya, 219 responden (44,9%) memasukan Indonesia sebagai negara pilihan yang layak dipertimbangkan. Hasil survei membuat peringkat Indonesia naik dari  peringkat tiga ke peringkat pertama dimana sebelumya diduduki oleh RRT. Di posisi kedua India 43,6%; ketiga  Thailand 38,5%; keempat RRT 37,5%; dan kelima Vietnam 30,3%.
Sementara itu, berdasarkan data The Travel and Tourism Competitiveness Index yang dilansir World Economic Forum (WEF) 2013, daya saing pariwisata Indonesia mampu naik empat peringkat. Indonesia juga menonjol di kategori culture and heritage(budaya dan warisan sejarah) dan rich natural resources (kekayaan dan keindahan alam). Untuk faktor harga, Indonesia dipandang sebagai destinasi yang berdaya saing karena value for money berada pada peringkat 9 dalam daya saing harga dari 140 negara yang diteliti WEF.
Trend lain yang juga menguntungkan Indonesia adalah semakin tingginya minat wisatawan terhadap perjalanan wisata budaya. Seperti dilaporkan dalam Economic Creative Report 2013: Widening Local Development Pathway yang diterbitkan oleh UNESCO dan UNDP bahwa dalam tataran global saat ini sedang berlangsung trend dimana warisan budaya kini menjadi aset yang semakin berharga dan makin menyatu dengan pariwisata.
Sebagai negara yang kaya dengan ragam budaya dan peninggalan budaya, trend ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk lebih mengintegrasikan ekonomi kreatif berbasis budaya sebagai daya tarik pariwisata untuk lebih mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, terutama bagi usaha skala kecil dan menengah.
Trend gaya hidup ekonomi hijau (ramah lingkungan) yang makin meningkat memberi prospek yang lebih cerah bagi Indonesia, mengingat kekayaan dengan keragaman hayati serta masyarakat adat untuk mengembangkan wisata alam dan ekowisata.
Berbagai perkembangan positif tersebut juga terlihat sudah diantipasi oleh sejumlah pelaku industri pariwisata seperti terlihat pada pertumbuhan nilai investasi. Tahun 2013 lalu, investasi di sektor pariwisata mencapai US$ 602,648 juta terdiri atas US$ 462,47 juta dalam bentuk PMA dan US$ 140,18 juta dalam bentuk PMDN. Sebagian besar diperuntukan pembangunan hotel dan restoran.
Beberapa contoh investasi yang sedang dan akan dilakukan dalam mengantisipasi meningkatnya permintaan, termasuk di second dan third tier cities adalah antara lain tiga operator dalam negeri (Grup Santika Hotel, Tauzia Hotel dan Dafam Hotel) tercatat sebagai operator nasional yang agresif melakukan ekspansi. Rencananya, operator ini akan menambah 140 jaringan hotel mereka sampai 2015 mendatang.
Operator asing Carlson Rezidor bersama mitranya PT Panorama Group merencanakan memperluas jaringannya dengan membangun 20 hotel baru dalam   5 – 7 tahun ke depan. Empat di antaranya mulai direalisasikan pada tahun ini di Lampung, Bali, Makassar dan Bandung, dengan nilai investasi sekitar US$ 250 juta.
Di samping itu, operator asing yang bekerja sama dengan sejumlah investor dalam negeri juga melakukan ekspansi.  Saat ini sudah ada 76 Hotel Aston, termasuk Aston Belitung yang baru saja diresmikan, dan direncanakan 150 lagi dalam 3 – 5  tahun kedepan. Sedangkan Accor group yang sudah beroperasi selama 20 tahun di Indonesia dan mengoperasikan 70 hotel di 24 kota di Indonesia akan mentargetkan 100 hotel atau 20.000 kamar pada tahun 2015. 
Kunjungan Wisatawan Meningkat
Kunjungan wisman pada Februari lalu tercatat 702.666 orang sehingga total kedatangan wisman dalam dua bulan pertama (Januari-Februari) 2014 naik menjadi 1.455.745 orang atau tumbuh 12,61% dibandingkan periode yang sama pada 2013 sebesar 1.292.743 orang. Peningkatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan sepanjang 2013 sebesar 9,4%. “Trendnya terlihat cukup bagus dan diharapkan bisa lebih baik lagi untuk bulan-bulan ke depan sehingga target kunjungan wisman 9,3 juta -9,4 juta tahun ini bisa tercapai, bahkan ada peluang untuk terlampaui,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari E. Pangestu.
Menurut Menteri, dari data yang ada selama ini kunjungan wisman dari bulan ke bulan memang cenderung berfluktuatif. Seperti terlihat pada Februari lalu, dibandingkan kunjungan wisman bulan sebelumnya (Januari) 753.079 orang maka terjadi penurunan 6,6%. Namun, dibandingkan dengan Februari 2013 angkanya lebih besar 3,57% atau sebanyak 678.415 wisman, sehingga secara keseluruhan trendnya tetap meningkat. “Bahkan dibandingkan jumlah kunjungan wisman pada tahun-tahun sebelumnya, capaian Februari 2014 jauh lebih baik dan merupakan rekor tersendiri,” kata Menteri.
Menurut Menteri, sektor pariwisata mengalami kendala cukup besar sepanjang Februari lalu terutama terkait masih berlanjutnya bencana Gunung Sinabung dan meletusnya Gunung Kelud yang menyebabkan sejumlah bandara yang merupakan bagian dari pintu masuk utama wisman ditutup beberapa hari, seperti Juanda (Surabaya), Adi Sucipto (Yogyakarta), Adi Sumarno (Solo), Ahmad Yani (Semarang), dan Husein Sastranegara (Bandung).
Sejumlah kegiatan promosi dan sejumlah event internasional terkait industri kreatif sepanjang Februari, antara lain Indonesia Fashion Week dan Java Jazz Festival, cukup memberikan kontribusi terhadap kedatangan wisman. “Ini menunjukkan sinergi antara perkembangan industri kreatif dan pariwisata,” kata Menteri.
Di samping itu, peningkatan seat capacity untuk rute penerbangan langsung ke Indonesia ikut mendukung pertumbuhan kunjungan wisman. Untuk penerbangan bagi wisman Timur Tengah misalnya, seat capacity naik 13,5% dari 1.789.528 seatsmenjadi 2.031.276 seats dalam setahun. Begitu juga dengan penerbangan bagi wisman RTT, seat capacity penerbangan dari berbagai kota negara ini ke Indonesia meningkat secara signifikan sebesar 34,74% dari 435.344 seats menjadi 586.812 seat.
Sementara itu, seat capacity untuk wisman dari Korsel naik 31,63% dari 465.348 seatsmenjadi 612.560 seats, dan dari Filipina naik 50% dari 16.224 seats menjadi 24.336seats.
Melihat trend peningkatan seat capacity dalam dua bulan terakhir, Menteri optimis bahwa pertumbuhan kunjungan wisman sepanjang tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2013. “Kondisi pasar global maupun iklim dalam negeri yang kondusif akan mendukung peningkatan kunjungan. Kita boleh berharap, prospek pariwisata, termasuk ekonomi kreatif akan lebih baik lagi,” katanya.
Menparekraf memberikan perhatian terhadap perkembangan positif pada trend pasar saat ini, khususnya peningkatan aksesibilitas dan kualitas sumber daya manusia dan  persepsi yang makin baik terhadap Indonesia. Berdasarkan laporan The World Travel & Tourism Council (WTTC), Menteri mengatakan bahwa peran pariwisata semakin signifikan dalam perekonomian global. Tahun 2013, pasar pariwisata dunia sudah mencapai US$ 7 triliun, dan pada 2014 pertumbuhan diperkirakan bisa mencapai 4,2%. 
Indonesia dinilai sebagai negara yang berhasil memanfaatkan momentum itu, sehingga dalam kelompok G20 Indonesia termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan pariwisata tinggi. WTTC memperkirakan tahun 2014 ini Indonesia berpeluang mencapai pertumbuhan kunjungan wisman 14,2% dan wisnus 6,3%. Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian diperkirakan bisa mencapai 8,1%. “Jadi peluang kita untuk mencapai proyeksi tersebut memang cukup terbuka, karena daya saing pariwisata Indonesia terus membaik. Apalagi persepsi terhadap Indonesia kini makin positif,” katanya.
Menurut Menteri, dalam jangka pendek Indonesia berpeluang untuk menarik lebih banyak wisman asal RRT, yang sekarang merupakan pasar wisman terbesar di dunia dan masyarakatnya akan terus mencari destinasi alternatif.