KODE-4

Showing posts with label ACARA BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label ACARA BUDAYA. Show all posts

Wednesday, January 30, 2008

Rekomendasi

Kongres Komunitas Sastra Indonesia 2008
Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008

  1. Krisis moneter pada 1997 telah memurukkan sendi-sendi perekonomian Indonesia. Salah satu dampaknya adalah aset-aset nasional harus dijual kepada pihak asing, sehingga kepemilikan pihak asing terhadap aset-aset nasional makin menguat. Makin menguatnya kepemilikan asing tersebut tentu makin mengokohkan nilai-nilai kebudayaan asing, terutama kebudayaan Barat (baca: westernization) , dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Karena itu, nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme misalnya kemandirian dan kenusantaraan dalam karya sastra menjadi sangat penting untuk kembali dibumikan di Tanah Air. Karya sastra dan komunitas sastra selayaknya dapat menjadi media dan wadah untuk kembali mengingatkan dan menyadarkan sangat pentingnya nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme tersebut. Tahun 2008 menjadi momen yang tepat untuk melakukan upaya tersebut mengingat pada tahun ini kita memperingati perjalanan kebangsaan atau nasionalisme kita untuk yang keseratus tahun.
  2. Krisis moneter pada 1997, yang berkembang menjadi krisis ekonomi dan berujung menjadi krisis multidimensi, telah memicu konflik antarkelompok, antargolongan, antarsuku, dan antaragama di Indonesia. Kebenaran hanya diklaim sebagai milik satu kelompok, satu golongan, satu suku, atau satu agama tertentu dan pihak lain seperti dipaksa menerima kebenaran versi mereka. Kebinekaan atau keberagaman laksana kehilangan pijakannya. Bertolak dari kondisi seperti itu, karya sastra dan komunitas sastra selayaknya dapat menjadi media dan wadah untuk menyuarakan sangat pentingnya kebinekaan atau keberagaman sebagai pijakan untuk saling menghormati dan bertoleransi. Tapi, hal itu bukan berarti bahwa komunitas sastra tak boleh mengidentifikasi diri secara spesifik, unik, atau khusus. Yang pokok, identitas yang spesifik dan unik tersebut tetap hidup dalam semangat inklusivisme. Semangat inklusivisme itulah yang diharapkan dapat menjadi tali penghubung atau jembatan yang mampu mengharmoniskan hubungan antarkomunitas sastra. Bukan napsu kekuasaan untuk menghegemoni atau mendominasi pelbagai komunitas sastra lain.
  3. Krisis multidimensi akhirnya juga membuat bangsa Indonesia laksana berjalan di tempat. Kemajuan seperti menjadi sesuatu yang musykil diraih di tengah keterpurukan pelbagai sendi kehidupan. Seperti negara-negara lain yang dihempas krisis moneter, Indonesia semestinya mampu menjadikan krisis multidimensi sebagai pijakan untuk melangkah lebih maju dengan semangat baru. Karya sastra dan komunitas sastra semestinya juga mampu menjadi bagian dari langkah lebih maju dengan semangat baru tersebut.
  4. Kemajuan selayaknya tetap bercermin pada perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dalam konteks kesusastraan Indonesia, sejarah kesusastraan Indonesia sepantasnya disusun berdasarkan realitas yang berkembang dalam perjalanan sejarah kesusastraan di negeri ini. Terhadap fenomena sejarah sastra mulai dari masa pasca1908, hingga tahun-tahun terakhir (sastra kontemporer) agar para pengamat dan sejarawan dari berbagai kalangan tak terpengaruh sejarah dominant yang mempengaruhi kurikulum pendidikan sastra Indonesia. Untuk itu, misalnya, kita ”terutama pemerintah” dapat membentuk semacam dewan sejarah kesusastraan Indonesia yang mampu menyusun sejarah kesusastraan Indonesia yang benar-benar mencerminkan realitas perjalanan sejarah kesusastraan di Indonesia. Secara struktural, dewan tersebut bisa saja berada di bawah dewan sejarah kesenian Indonesia. Payung utamanya sendiri bisa berupa dewan sejarah kebudayaan Indonesia. Tentu, sebelum itu, kita ”terutama pemerintah” harus lebih dulu menyusun strategi kebudayaan Indonesia.
  5. Agar penerbitan dan penyebarluasan karya sastra bisa lebih baik perlu diciptakan kondisi-kondisi yang mendukung misalnya pemerintah menurunkan harga kertas, menghapuskan pajak atas karya sastra dan kemudahan-kemudahan lainya.
  6. Kongres KSI 2008 di Kudus menegaskan perubahan yang cukup signifikan menjadi ormas terbuka dengan segera mendirikan 100 cabang baru di dalam dan diluar negeri dalam kurun waktu 3 tahun.

Kudus, Jawa Tengah, 20 Januari 2008

Tertanda,
Para Peserta Kongres Komunitas Sastra Indonesia 2008

Tuesday, October 30, 2007

"Samalam Lapeh Taragak Jo Rabab Pasisie"

Acara ini akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Sabtu, 3 November 2007

Tempat : Gedung Samudra, Jl. Daksinapati Barat IV Rawamangun Pukul : 19.00 - selesai

(Semalam Lepas Rindu dengan Rebab Pesisir Selatan) adalah sebuah acara yang menampilkan seni tradisi bakaba; bercerita dari Pesisir Selatan Sumbar. Rabab Pasisie merupakan seni tradisi lisan asal Minangkabau, Sumbar yang masih banyak diminati oleh khalayaknya baik dari Pesisir Selatan maupun dari luar wilayah itu. Seni tradisi rabab pasisie ini biasanya menampilkan seorang tukang rabab (biola), seorang tukang gendang, dan seorang tukang dendang (biasanya perempuan). Tukang rabab merangkap juga sebagai pencerita. Panjang pendek cerita sangat bergantung pada situasi dan kondisi di lapangan. Artinya bisa semalam suntuk seperti wayang tetapi bisa juga lebih singkat waktunya. Sebelum masuk ke inti kaba 'cerita', tukang dendang akan membawakan pantun dan lagu-lagu yang sangat komunikatif dengan khalayak pendengarnya. Seringkali pantun dan lagu yang dinyanyikan, diciptakan berdasarkan pada situasi pertunjukan dan tanggapan khalayak. Jalinan komunikasi yang cair dengan khalayak sangat menentukan keberhasilan sebuah pertujukan seni tradisi lisan seperti, rabab pasisie ini.

Acara ini dilaksanakan oleh IKPS (Ikatan Keluarga Pesisir Selatan), Sumbar di Ibukota. Adapun acara ini dimaksudkan untuk menggalangan dana bagi korban gempa yang baru-baru ini menimpa Sumbar umumnya dan Kabupaten Pesisir Selatan khususnya sebagai salah satu Kabupaten di Sumbar yang parah mengalami kerusakan akibat gempa.

Sebagai wadah bagi para perantau asal Pesisir Selatan, DPP IKPS merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menghimpun bantuan baik materi maupun non materi untuk meringankan beban penderitaan dunsanak (saudara-saudara) yang berada di kampung halaman. Disebabkan masih banyaknya sarana dan prasarana seperti rumah penduduk, rumah sekolah, tempat ibadah, dan puskemas yang rusak, maka DPP IKPS mencoba mengetuk pintu hati para donatur yang tidak terbatas hanya dari perantau asal Pesisir Selatan dan Minangkabau saja agar bersedia membantu korban gempa melalui seni pertunjukkan tradisi barabab jo Pirin Ketek.

Tukang Rabab yang bernama Pirin Ketek, merupakan tukang rabab profesional yang berasal dari desa Taratak, Pesisir Selatan, Sumbar. Pirin Ketek merupakan murid dari Tukang Rabab legendaris Pirin Asmara (almarhum). Pengalaman sebagai tukang rabab profesional dari Pirin Ketek ini, sudah dibuktikannya dengan seringnya dia dan kelompoknya diminta untuk tampil di berbagai tempat. Baik di wilayah Pesisir Selatan, maupun di kota-kota di Sumatera dan juga Jawa. Bahkan pada tahun 2002, Pirin Ketek sudah pernah tampil di Malaysia diundang oleh perantau asal Minang dari negeri Jiran tersebut.

Pada kesempatan ini, Pirin Ketek dan kawan-kawan akan menampilkan kaba mengenai seorang perantau asal Lunang yang terpaksa merantau ke Palembang. Ketika masih di rantau itulah gempa memporakporandakan rumah dan keluarga yang ditinggalkannya dalam keadaan papa di kampung halaman. Tetapi karena nasib tidak berpihak kepadanya di rantau, sang tokoh utama ini tidak mampu menjenguk anak istri yang tengah ditimpa bencana di kampung halaman yang ditinggalkannya. Sebuah tragedi anak manusia yang kerap kita jumpai sehari-hari di negeri ini.


  • Ketua Pelaksana: Adnan Chaniago
  • Ketua Umum DPP IKPS: Drs. Hasdanil, Msi.
  • Sekretaris: Sastri Sunarti : 0813 17700499
  • Eva : 0813 10689463

Friday, August 17, 2007

MANIFESTO BOEMIPOETRA


Beberapa tahun terakhir ini rakyat Indonesia banyak mengalami musibah besar yang merubah kehidupan mereka seperti terjadinya tsunami dan gempa bumi. Tapi tsunami dan gempa bumi adalah musibah yang memang tidak bisa dicegah terjadinya oleh kekuatan manusia karena merupakan bencana buatan alam. Bencana alam hanya bisa diterima dan menjadi tanggung jawab bersama korban dan bukan-korban untuk menanggulangi akibatnya.

Ini berbeda dengan bencana lain yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Kelalaian manusia karena keserakahan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dan tidak adanya tanggung jawab atas akibat yang mungkin diakibatkan sebuah perbuatan merupakan penyebab utama terjadinya bencana seperti yang terjadi di Porong Sidoarjo, Jawa Timur. Sudah lebih satu tahun ribuan rakyat Porong Sidoarjo telah menjadi korban lumpur beracun yang disebabkan oleh perusahaan Lapindo. Puluhan kampung musnah selamanya dan ratusan hektar tanah berubah menjadi danau lumpur beracun yang tidak mungkin untuk dimanfaatkan lagi oleh manusia. Semua ini terjadi karena kelalaian perusahaan Lapindo yang pemiliknya adalah Keluarga Bakrie.

Dalam konteks inilah penganugerahan Bakrie Award setiap tahun kepada tokoh-tokoh yang dianggap berprestasi besar dalam kebudayaan Indonesia adalah sebuah penghargaan yang sangat melecehkan kemanusian. Karena sementara ribuan rakyat Porong Sidoarjo korban lumpur Lapindo makin sengsara kehidupan sehari-harinya, Bakrie malah menghambur-hamburka n uang hanya untuk mencari nama semata. Di samping Kasus Lapindo, Bakrie dengan lembaga Freedom Institute-nya juga telah menyengsarakan rakyat Indonesia dengan cara memasang iklan raksasa di media massa nasional yang mendukung kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu.

Kami mengecam keras politik pemberian penghargaan Bakrie Award karena bagi kami hanya sebuah usaha manipulatif untuk mempengaruhi pendapat-publik atas reputasi Bakrie dan Freedom Institute sehubungan dengan Kasus Lapindo dan iklan mendukung kenaikan harga BBM di media massa. Kami mengecam keras para "budayawan" penerima Bakrie Award yang tidak memiliki solidaritas nasional dengan ribuan korban lumpur Lapindo dan jutaan rakyat korban kenaikan harga BBM. Kami menuntut Keluarga Bakrie dan perusahaan Lapindo-nya untuk segera melaksanakan tanggung jawabnya memberikan semua ganti rugi seperti yang diminta para korban lumpur Lapindo secepatnya. Kami menuntut para penerima Bakrie Award untuk memberikan hadiah uang sebesar Rp 100 juta yang mereka terima sebagai bagian dari penghargaan Bakrie Award kepada para korban lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo secepatnya. Karena merekalah yang paling berhak untuk menerima uang tersebut sebagai kompensasi atas musibah besar yang ditimpakan atas kehidupan normal mereka. Sebagai solidaritas nasional kami meminta kepada para budayawan Indonesia untuk menolak dipilih sebagai penerima Bakrie Award di tahun-tahun yang akan datang kalau Kasus Lapindo belum diselesaikan Keluarga Bakrie sebagaimana mestinya.
Tangerang, 17 Agustus 2007

Saut Situmorang
Ahmadun Yosi Herfanda
Wowok Hesti Prabowo
Koesprihyanto Namma
Mahdiduri
Gito Waluyo
Viddy A Daeri
Jumari HS

Wednesday, July 25, 2007

Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung

Serang, Banten, 20-22 Juli 2007:

Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya. Dominasi itu bahkan tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu merasa berhak merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut standar estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini jelas meresahkan komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia karena kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan sastra Indonesia yang sehat, setara, dan bermartabat. Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan penggiat komunitas-komunitas sastra memaklumatkan.

Pernyataan Sikap sebagai berikut:

  1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya
  2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika
  3. Menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.

Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang merefleksikan keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas merupakan salah satu pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu sastrawan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca). Oleh karena itu kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupun kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, misalnya tragedi lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam keras sastrawan yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah tersebut, bahkan berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan musibah tersebut.

Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini, sekaligus solidaritas terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme di seluruh Indonesia.

Kami yang menyuarakan dan mendukung pernyataan ini:

01. Wowok Hesti Prabowo (Tangerang)
02. Saut Situmorang (Yogyakarta)
03. Kusprihyanto Namma (Ngawi)
04. Wan Anwar (Serang)
05. Hasan Bisri BFC (Bekasi)
06. Ahmadun Y. Herfanda (Jakarta)
07. Helvy Tiana Rosa (Jakarta)
08. Viddy AD Daeri (Lamongan)
09. Yanusa Nugroho (Ciputat)
10. Raudal Tanjung Banua (Yogya)
11. Gola Gong (Serang)
12. Maman S. Mahayana (Jakarta)
13. Diah Hadaning (Bogor)
14. Jumari Hs (Kudus)
15. Chavcay Saefullah (Lebak)
16. Toto St. Radik (Serang)
17. Ruby Ach. Baedhawy (Serang)
18. Firman Venayaksa (Serang)
19. Slamet Raharjo Rais (Jakarta)
20. Arie MP.Tamba (Jakarta)
21. Ahmad Nurullah (Jakarta)
22. Bonnie Triyana (Jakarta)
23. Dwi Fitria (Jakarta)
24. Doddi Ahmad Fauzi (Jakarta)
25. Mat Don (Bandung)
26. Ahmad Supena (Pandeglang)
27. Mahdi Duri (Tangerang)
28. Bonari Nabonenar (Malang)
29. Asma Nadia (Depok)
30. Nur Wahida Idris (Yogyakarta)
31. Y. Thendra BP (Yogyakarta)
32. Damhuri Muhammad
33. Katrin Bandell (Yogya)
34. Din Sadja (Banda Aceh)
35. Fahmi Faqih (Surabaya)
36. Idris Pasaribu (Medan)
37. Indriyan Koto (Medan)
38. Muda Wijaya (Bali)
39. Pranita Dewi (Bali)
40. Sindu Putra (Lombok)
41. Suharyoto Sastrosuwignyo (Riau)
42. Asep Semboja (Depok)
43. M. Arman AZ (Lampung)
44. Bilven Ultimus (Bandung)
45. Pramita Gayatri (Serang)
46. Ayuni Hasna (Bandung)
47. Sri Alhidayati (Bandung)
48. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)
49. Riksariote M. Padl (bandung)
50. Solmah (Bekasi)
51. Herti (Bekasi)
52. Hayyu (Bekasi)
53. Endah Hamasah (Thullabi)
54. Nabila (DKI)
55. Manik Susanti
56. Nurfahmi Taufik el-Sha'b
57. Benny Rhamdani (Bandung)
58. Selvy (Bandung)
59. Azura Dayana (Palembang)
60. Dani Ardiansyah (Bogor)
61. Uryati zulkifli (DKI)
62. Ervan ( DKI)
63. Andi Tenri Dala (DKI)
64. Azimah Rahayu (DKI)
65. Habiburrahman el-Shirazy
66. Elili al-Maliky
67. Wahyu Heriyadi
68. Lusiana Monohevita
69. Asma Sembiring (Bogor)
70. Yeli Sarvina (Bogor)
71. Dwi Ferriyati (Bekasi)
72. Hayyu Alynda (Bekasi)
73. herti Windya (Bekasi)
74. Nadiah Abidin (Bekasi)
75. Ima Akip (Bekasi)
76. Lina M (Ciputat)
77. Murni (Ciputat)
78. Giyanto Subagio (Jakarta)
79. Santo (Cilegon)
80. Meiliana (DKI)
81. Ambhita Dhyaningrum (Solo)
82. Lia Oktavia (DKI)
83. Endah (Bandung)
84. Ahmad Lamuna (DKI)
85. Billy Antoro (DKI)
86. Wildan Nugraha (DKI)
87. M. Rhadyal Wilson (Bukitingi)
88. Asril Novian Alifi (Surabaya)
89. Jairi Irawan ( Surabaya)90. 91. Langlang
Randhawa (Serang)
92. Muhzen Den (Serang)
93. Renhard Renn (Serang)
94. Fikar W. Eda (Aceh)
95. Acep Iwan Saidi (Bandung)
96. Usman Didi Hamdani (Brebes)
97. Diah S. (Tegal)
98. Cunong Suraja (Bogor)
99. Muhamad Husen (Jambi)
100. Leonowen (Jakarta)
101. Rahmat Ali (Jakarta)
102. Makanudin RS (Bekasi)
103. Ali Ibnu Anwar ( Jawa Timur)
104. Syarif Hidayatullah (Depok)
105. Moh Hamzah Arsa (Madura)
106. Mita Indrawati (Padang)
107. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)
108. Sri al-Hidayati (Bandung)
109. Nabilah (DKI)
110. Siti Sarah (DKI)
111. Rina Yulian (DKI)
112. Lilyani Taurisia WM (DKI)
113. Rina Prihatin (DKI)
114. Dwi Hariyanto (Serang)
115. Rachmat Nugraha (Jakarta)
116. Ressa Novita (Jakarta)
117. Sokat (DKI)
118. Koko Nata Kusuma (DKI)
119. Ali Muakhir (bandung)
120. M. Ifan Hidayatullah (Bandung)
121. Denny Prabowo (Depok)
122. Ratono Fadillah (Depok)
123. Sulistami Prihandini (Depok)
124. Nurhadiansyah (Depok)
125. Trimanto (Depok)
126. Birulaut (DKI)
127. Rahmadiyanti (DKI)
128. Riki Cahya (Jabar)
129. Aswi (Bandung)
130. Lian Kagura (Bandung)
131. Duddy Fachruddin (Bandung)
132. Alang Nemo (Bandung)
133. Epri Tsaqib Adew Habtsa (Bandung)
134. Tena Avragnai (Bandung)
135. Gatot Aryo (Bogor)
136. Andika (Jambi)
137. Widzar al-Ghiffary (Bandung)
138. Azizi Irawan Dwi Poetra (Serang)


*) Kepada kawan-kawan sastrawan lain yang senada dan hendak ikut mendukung pernyataan ini, diharapkan melayangkan secarik pernyataan yang menyatakan dukungan melalui email: odekampung2@yahoo.com

Tuesday, July 24, 2007

PERTUNJUKAN TEATER HITAM-PUTIH INDONESIA

Pertunjukan Teater "DITUNGGU DOGOT"

Karya: Sapardi Djoko Damono

Sutradara: Kurniasih Zaitun (TINTUN)

Bandung : 25 Juli 2007
  • CCF Bandung (depan Bandung Electronic Center, jl. Purnawarman No. 32, pukul 19.30
Jakarta : 27 - 28 Juli 2007
  • 27 Juli, pukul 20.00 di Sanggar Baru, Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat. Terbuka untuk umum.
  • 28 Juli, pukul 19.30 di Taman Kambojo, Kampus UIN Ciputat, Jakarta

Konsep Garapan

Ditunggu Dogot adalah sebuah cerpen Sapardi Djoko Damono. "Teks" cerpen ini kemudian ditafsirkan dan diwujudkan dalam bentuk pertunjukan teater. Cerpen ini mengisahkan perjalanan dua orang tokoh, laki-laki dan perempuan yang sedang ditunggu Dogot. Selama perjalanan Ditunggu Dogot mereka mengalami berbagai persoalan, konflik dan perdebatan mereka tentang Dogot, sedangkan Dogot itu sendiri tidak jelas identitas dan asala usulnya.

Dapat dilihat disini bahwa Sapardi sangat terinspirasi oleh Menunggu Godot karya Samuel Beckett. Sapardi mencoba melihat bagaimana persoalan "menunggu" tidak akan lengkap jika tidak ada "ditunggu", dan Sapardi percaya bahwa hidup ini berpasang-pasangan. Hal ini terlihat pada dialog-dialog yang muncul dalam cerpen tersebut, termasuk cara Sapardi dalam melukiskan persoalan dan konflik yang membangun inti cerpen tersebut.

Konsep panggung yang ditawarkan adalah stage on stage (panggung di atas panggung) yang menghadirkan panggung bergerak (berputar) untuk mnenawarkan konsep un-blocking (perpindahan aktor lebih ditentukan oleh pergerakan panggung). Sedangkan posisi penonton diarahkan ke dalam bentuk prosenium dan tapal kuda/arena, dengan tujuan lebih memudahkan penonton untuk mengapresiasi pentas itu sendiri. Untuk memperkuat karakter pertunjukan dan artistik panggung, pementasan ini juga menggunakan multimedia yang dilahirkan melalui layar yang menjadi latar belakang panggung.

Konsep pertunjukan Ditunggu Dogot, berangkat dari ide dasar randai, dengan menjadikan unsur galombang dan pelaku galombang sebagai penentu, yakni penentu pergantian waktu, tempat dan adegan. Fungsi pelaku galombang dalam pertunjukan ini sangat ditentukan oleh perputaran panggung; pada saat perputaran dilakukan, pelaku galombang menjadi aktor pertunjukan, dan ketika tidak terjadi lagi perputaran, sang pelaku galombang memfungsikan diri sebagai bagian dari penonton.

Sinopsis

Perjalanan dua orang tokoh, laki-laki dan perempuan yang sedang ditunggu Dogot. Selama perjalanan Ditunggu Dogot mereka mengalami berbagai persoalan, konflik dan perdebatan mereka tentang Dogot, sedangkan Dogot itu sendiri tidak jelas identitas dan asala usulnya.

Semua yang ada dimuka bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Jauh dekat, tinggi rendah, langit bumi, laki-laki perempuan, menunggu ditunggu. Perjalanan hidup manusia yang tak pernah bisa ditebak "apa", tapi dapat dirasakan, dijalani dan dinikmati.

Profil Kelompok

Komunitas seni HITAM-PUTIH di Sumatra Barat awalnya adalah kelompok teater yang tumbuh di lingkungan pelajar SMU. Didirikan pada tahun 1992 dengan nama Teater Plus sebagai salah satu kegiatan ekstra kurikuler di SMU Plus INS Kayu tanam Sumatera Barat. Kemudian di tahun 1998, atas beberapa pertimbangan, kelompok ini berubah nama menjadi komunitas seni HITAM-PUTIH dan hingga saat ini tetap eksis sebagai salah satu kantong seni di Sumatera Barat. Berbagai aktivitas seni pertunjukan khususnya teater telah dipentaskan, baik di tingkat regional Sumatera hingga merambah beberapa tempat di Jakarta. Sejak awal kehadirannya, komunitas ini cukup memberikan warna baru pada perkembangan seni pertunjukan di Sumatera Barat. Hal ini tampak dari beberapa pentas keliling di wilayah Sumatera dan Jakarta yang digelar pada kurun waktu 1998-2000, di samping juga melakukan beberapa kali workshop teater di Sumatera Barat.

Selain membidangi seni Teater, komunitas seni HITAM-PUTIH, juga mengembangkan bidang kesenian lainnya dengan menjadi penyelenggara beberapa pentas Tari, Workshop Sastra, dan Pagelaran Musik Etnik. Sedangkan dalam bidang perfilman, komunitas ini menyelenggarakan kegiatan diskusi, pemutaran dan produksi film, di samping melakukan eksplorasi, riset dan eksperimen untuk mencari bentuk-bentuk alternatif seni pertunjukan khususnya seni teater dengan memberikan kesempatan kepada penonton untuk memberikan penilaian lewat diskusi pasca pentas.

Profil Sutradara

Kurniasih Zaitun lebih akrab dengan panggilan TINTUN kelahiran, Padang 20 April 1980. Salah satu dari sekian banyak perempuan yang aktif dalam kesenian Teater. Telah meluluskan pendidikan S-1 nya di STSI Padangpanjang Jurusan Teater dengan Minat Utama Penyutradaraan.

PENGALAMAN KESENIAN

TEATER

Menjadi Sutradara:

* Pertunjukan "Ditunggu Dogot" Karya Sapardi Djoko Damono di Padangpanjang, Pasar Seni Pekan Baru-Riau dan Taman Budaya Prop. Sumatra Barat-Padang (2005-2006)
* Pertunjukan "Kura-Kura Bekicot"Karya Ionesco di Padangpanjang (2004)
* Puisi Pertunjukan dengan tema "Seks, Teks dan Konteks"di Univ Padjajaran Bandung (2004)
* Pertunjukan "Cleopatra" karya Shakespeare di Padangpanjang (2003)
* Pertunjukan "Cermin" karya Nano Riantiarno di Festival Pesisir- Taman Budaya Padang (2002)
* Pertunjukan "Pintu Tertutup" karya Jean P Sartre di Padangpanjang (2002)
* Pertunjukan "Topeng" karya Yusril di Univ Bung Hatta Padang, Taman Budaya Bengkulu, GOR Payakumbuh Sum-Bar (2000-2001)
* Pertunjukan "Komplikasi" karya Yusril di Pertemuan Teater Eksperimental Internasional Fak Sastra Univ Andalas Padang (2000)
* Pertunjukan "Malam Terakhir" karya Yukio Mishima di Padangpanjang (2000)
* Pe0rtunjukan "The Song Of The Death" karya Kurniasih Zaitun di Padangpanjang (2000)
* Dramatisasi Puisi "Menjelang Hari Pemilu" karya Gunawan Muhammad di Padangpanjang (2000)
* Pertunjukan "Orang-Orang Kasar" karya Anton P.Chekov di Padang Panjang (1999)

Menjadi Aktor:

* Pembaca Cerpen "Surat untuk Guru(ku)" di Univ Andalas Padang" (2006)
* Pertunjukan "Pintu"karya/ Sutradara Yusril di Taman Budaya Padang (2002)
* Pertunjukan "Menunggu" karya/Sutradara Yusril di TAMAN Budaya Padang, Event Pertemuan Sastrawan Nusantara Tiga Negara Tetangga di INS Kayu Tanam Sumatra Barat, Taman Budaya Jambi, Balai Dang Merdu Riau, Pertemuan Teater Indonesia di Taman Budaya Pekan Baru Riau, STSI Padangpanjang, Teater Utan Kayu Jakarta dan Teater Luwes IKJ Jakarta (1997-2000)
* Pertunjukan "Menanti Kasih di Ujung Tanduk" karya/ Sutradara Yusril di Fak Sastra Univ.Andalas Padang, SMKI Padang, STSI Padangpanjang (199)
* Dramatisasi "Sembilu Darah" karya/Sutradara Yusril di Fak Sastra Univ Bung Hatta Padang (1997)

Menjadi Penulis:

* Naskah Perempuan di Ruang Kerja
* "tak ada yang sempurna di dunia, hanya DIA yang memiliki kesempurnaan itu. Maka nikmati apa yang telah dianugrahkan, apapun……."(2005)
* Naskah The Song Of The Death"
* "aku hanya mampu melihat, mendengar, dan menyaksikan…. .(2000)
* Artikel "Jual Obat sebagai Teater alternativ" di Harian Mimbar Minang Padang (2000)
* Artikel "Grotowsky dan Konsep Teater Melarat" di Booletin Teater Jur Teater STSI Padangpanjang (2000)
* Puisi di Majalah Horison Jakarta (1996)

Non Teater:

* Aktor Utama Film Indipendent "Sedikit Sekali Waktu Untuk Cinta" Sutradara Yusril Produksi Studio Hitam-Putih (2003)
* Narator Film-film Dokumenter Produksi Studio Hitam Putih (2001- sekarang)
* Pembaca Puisi, pada Event lokal dan nasional (1997- sekarang)

Salam budaya,

Evi Widya Putri
Promotions and Media Relations
Komunitas Seni Hitam Putih
Sekretariat Jakarta
Jl. H. Samali no. 11 Pejaten Barat - Pasar Minggu
Jakarta Selatan

Saturday, July 7, 2007

Konser Musik Kua Etnika


"Raised From The Roots, Breakthrough Borders"

Graha bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Kamis dan Jumat, 12 & 13 Juli 2007, pukul 20.00 WIB Sebelum menampilkan karya terbaru mereka di Festival Nusantara,Brisbane, Australia, Agustus mendatang, pemusik Djaduk Ferianto bersama grupnya, Kua Etnika, akan menampilkan karya-karyanya di depan publik Jakarta. Setelah dipentaskan untuk menandai kegiatan Yayasan Bagong Kussudiardja, di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta, akhir Mei lalu, Konser Musikbertajuk “Raised From The Roots, Breakthrough Borders” ini akan dipangungkan di Graha Bhakti Budaya TIM, Kamis dan Jumat, 12 & 13 Juli, pukul 20.00 WIB mendatang....

Dalam
konser yang menggunakan aneka macam instrumen etnik ini, Djaduk menyajikan 11 repertoar dengan dukungan vokalis Trie Utami. Seperti biasanya, dalam bermusik Djaduk berangkat dari semangat mengolah seni tradisi dan modern. Karya komposisinya merupakan pertemuan perjalanan musikalitas yang berusaha menautkan kutub-kutub aliran, gaya, dan genre. Kua Etnika mengolah dan mengambil inspirasi dari berbagai khasanah tradisi, sembari terus mempertemukannya dengan berbagai bentuk cara ungkap kontemporer. Menurut Djaduk, yang mendasari kerja kreatif mereka adalah keterbukaan musik etnik di Indonesia terhadap berbagai kemungkinan baru, baik instrumen, melodi, maupun iramanya. Termasuk di dalamnya upaya mendialogkan khasanah musik etnik dengan khasanah musik Barat, maupun mendialogkan antar musik etnik itu sendiri yang berasal dari khasanah musik Nusantara.

Dari berbagai rajutan dialog musikal itu diharapkan mampu melahirkan apa yang disebut “harmoni keindonesiaan”, tanpa melenyapkan karakter masing-masing musik etnik. Melalui seluruh reportoar garapan terbaru mereka, Kua Etnika, Djaduk Ferianto dan Trie Utami akan membagi perjalanan mereka. Perjalanan yang mendasari dirinya dari gamelan Jawa, Sunda, Bali, dan khasanah musik tradisi, untuk menemukan daya ungkapnya dalam musikalitas hari ini.

Suatu perjalanan yang,
menilik judulnya, berangkat dari suatu akar untuk mencapai dan kemudian menembus batas-batas, penuh percobaan teknik dan gaya dari berbagai sumber inspirasi. Namun, alih-alih menjadi rumit, mereka bersetia untuk lugas, sederhana, dan pada saat yang sama, menghadirkannya dalam suasana yang akrab dan hangat, hampir seperti tanpa pretensi.Selama dua jam penuh, penonton akan mereka ajak untuk bersama-sama menempuh perjalanan musikalitas mereka,menempuh pertemuan-pertemuan antar bunyi dan budaya. Tiket bisa diperoleh di 021-3154087 atau Pak Isa 081317028139. ***

Wednesday, June 27, 2007

Teater Kosong Jakarta


1 HARI 11 MATA DI KEPALA

Naskah/sutradara RADHAR PANCA DAHANA

Tanggal 6 - Juli 2007 pukul 19.45 wib
Teater Studio Taman Ismail Marzuki Jl.Raya Cikini 73 Jakarta Pusat


PENGANTAR:

Setelah menjalani masa vakum cukup panjang dari panggung teater, kecuali beberapa pertunjukan dramatik sastra (terakhir pentas Lalu Batu, di Gedung Kesenian jakarta dan 5 kota di Jawa, 2004), Radhar Panca Dahana akhirnya melakukan come back lewat sebuah pertunjukan teater yang ia tulis, sutradarai dan mainkan sendiri. Bersama sejawat-sejawatnya di Teater Kosong (angkatan ke-7), ia akan membawakan sebuah suguhan yang mengintegrasikan seluruh kekuatan artistik seni lainnya, dari mulai fotografi hingga arsitektur, dari akting hingga sinematografi, di atas panggung.

Sejak pertaqma kali terlibat dalam pertunjukan teater bersama Teater Gombong sebagai Roberta dalam drama Jack dan Penyerahan (GR Bulungan, 1979) bersama grupnya—termasuk yang terdahulu, Teater Aquilla dan teater Telaga—radhar sudah memenataskan 30-an panggung teater. Termasuk eksperimen laboratorisnya di Depok selama lima tahun bersam 15-an anggota kelompoknya.

Belakangan ia menerbitkan beberapa bukunya tentang teater. Mendirikan dan memimpin Federasi Teater Indonesia sambil menuliskan pengamatan dekatnya pada perkembangan teater Indonesia mutakhir. Dari semua jejak itulah, ia setahun belakangan mempersiapkan gagasan pertunjukan anyarnya, sebagai sebuah “surprise” (apa maksud tersembunyi di balik ini) kepada para kolega, rekan-rekan pekerja teater dan masyarakat umumnya.

Inilah hasil perenungannya setelah aktip dalam hidup kesenian sepanjang hampir 30 tahun: sebuah pandangan yang coba memberi alternatif bagi pemahaman atau cara pandang kita melihat manusia dan hidup di sekitarnya. Sebuah drama yang mengubah panggung bukan lagi sebagai mimesis atau representasi kenyataan belaka, tapi membentuknya kembali dan realitas barunya yang berlapis-lapis.

SINOPSIS:

Banyak tragedi, ironi juga komedi.Bukan cuma bagi dan dalam manusia. Tapi semua yang ada: sayur, kursi, kecoa, air susu yang tumpah atau sekedar nafsu seks yang gelap. Ini bisa di satu tempat atau sekaligus di berbagai tempat.

DI RUANG TIDUR: Hajjira, pekerja toko, juga pekerja seks komersial, melihat ruang tidurnya setiap hari selalu berubah. Hal itu membuatnya cukup tenteram, karena dunia luar yang dijalaninya telah membuat ia seperti angkotan kota yang ditilang begitu keluar dari jalur atau line-nya. Hingga satu kali ia melihat tikus mati di lubang wastafelnya: segalanya berubah. Ruang tidur itu tak lagi berubah namun selalu berada dalam cuaca yang sama: kecemasan bahkan ketakutan, suatu saat Hajjira akan menemukan dirinya tersesat dalam lubang wastafel dan ia tak mampu mengubah dunia dalam kepalanya: lorong wastafel itu, untuk selamanya. Ruang tidur menjadi neraka monotoni dan dunia luar hanya ilusi.

DI DAPUR: Mari, penari balet yang menikah dengan seorang pegawai kantor kepolisian. Suaminya mati karena salah tembak, disangka polisi hanya karena jaket yang dikenakannya. Setelah itu, mari selalu berusaha di dapur, menyibukkan diri, menyiapkan segala hal untuk suaminya yang akan berangkat pergi atau pulang dari kantor. Ia bersih-bersih, mencuci, memasak dan bicara, seakan suaminya ada di dapur, meruang bahkan adalah dapur itu sendiri.

DI WARUNG: Solar dan sonar duduk di sebuah warung kopi, yang satu menikmati kopi, satu menikmati yang sedang menikmati kopi. Yang satu menghisap rokok, satunya menikmati yang menghisap rokok. Yang satu bicara, yang satu bicara tentang yang sedang bicara. Satu lelaki satu perempuan. Keduanya bertukar sapa, mengaku sumai dan istri. Yang satu duduk satu pergi. Yang satu pergi satu duduk. Mereka bertemu. Mereka tak pernah bertemu.

Lalu kejadian berlangsung dimana-mana. Dimana ruang tercipta dan waktu “bermain” di dalamnya. Tak ada aktor, karena semua adalah pelaku, pelakon (manusia, bangku, cahaya lampu atau tikus di wastafel). Semua bisa berjuktaposisi, bisa beroposisi, bisa berkontemplasi, bisa apa saja. Dalam sebuah panggung yang memungkinkan apa pun yang diinginkan terjadi. Dan ada tak ada relasi, bukan soal lagi. Semua berrelasi sekaligus mengingkarinya.

KONSEP PERTUNJUKAN:

Pertunjukan ini dikreasi berdasarkan pemahaman teater kini tidak lagi dapat mewakili realitas secara apa adanya. Bahkan sebenarnya ia tak mewakili realitas itu sama sekali. Tidak terjadi mimesis sebagaimana secara klasik dipahami oleh sejarah teater terutama oksidental selama ini.

Bukan karena teater itu berubah atau terdapat kesalahan pemaknaan. Tapi karena realitas itu sendiri yang berubah. Dan seni, sebagaimana terjadi sejak dulu adalah anjing setia yang mengikuti kemanapun hidup itu pergi. Hidup itu berubah. Lebih tepatnya diubah. Ia tidak lagi dalam pemaknaan tradisionalnya. Setiap hidup, dalam jengkal ruang manapun, tidak lagi memiliki makna sebagaimana yang ada di dalamnya sendiri, sebagaimana yang ia kehendaki.

Tapi ia ada dan bermakna sejauh mata yang memandang, hati yang merasakan, dan akal yang merumuskannya. Realitas adalah mata. Barangkali realitasnya itu-itu saja, hanya satu,tapi ada sejuta mata yang melihatnya: maka iapun berubah menjadi sejuta. Setiap keadaan (waktu yang memuai susutkan ruang) kepentingan, latar sosio-kultural, dunia pikiran hingga cita rasa kuliner, bisa menggubah kenyataannya sendiri-sendiri, dari satui hidup yang tunggal.

Hidup adalah doublu double burger dengan sekian lapisan kenikamatan, yang sayang junk dan artifisial. Jangan mencoba menelannya sekaligus, jika tak kemudian anda menjadi makhluk dengan kepenuhan kontaminasi.

Dalam situasi itulah manusia melangkahkan perginya. Teater menrjemahkan dirinya. Menerjemahkan hidup yang tak pernah selesai ditafsirkan. Memberi manusia sekian (bahkan terlalu banyak) pilihan, dan seseorang hanya dapat mengambilnya satu-dua. Yang lainnya tinggal sebagai obskuritas bahkan chaos. Dan panggung teater adalah chaos (signikansi) itu.

Jika Anda tetap akan meraih signifikansi itu, lakukanlah tanpa dengan jiwa dan pikiran tertekan. Nikmatilah seperti anda menikmati segelas anggur, sup yang sedap plus alunan bossas yang meringankan badan. Nikmati pertunjukan.

ARTISTIK:

Pemain : Krisniati Marchelllina, Yudarria, Jeffry Djakatara
Panggung: Nobon
Cahaya: Reno Azwir
Musik: Jalu G.Pratridina
Kostum:Yudarria
Tata rias:Ratna Kosong
Stage manager: Anto Ristagi
Karya/sutradara: Radhar Panca Dahana

PRODUKSI:

Sekretariat: Yulisza Ristargi
Keuangan: Krisniati Marchellina
Publikasi/humas: Khumaidi
Dokumentasi: Fajar Irawan
Desain dan cetak:Edi hartanto
Konsumsi:Mei Han
Umum/peralatan: Karsimin
Petit fete:Endang Suwardi, Tya Rangkas
Produser: Edi Hartanto

Informasi:

1.Radhar Panca Dahana 081 6 19 48 365
Email:radhardahana@ yahoo.com, ftiindonesia@ yahoo.com

2.Lisa, sekretariat, 08569 22 33 849
Emaillisa_cerminart @yahoo.com

Monday, June 25, 2007

Pentas Teater Nyai Ontosoroh

Kisah perlawanan perempuan bernama Sanikem. Zaman kolonial Belanda gadis-gadis dijual, diserahkan kepada pembesar-pembesar Belanda dijadikan gundik, atau Nyai. Jaman penjajahan Jepang perempuan dijual dan dipaksa dijadikan Jugun Ianfu. Zaman sekarang perempuan-perempuan dijual oleh keluarga, olehnegara, dijadikan TKW, menjadi budak rumah tangga, kadang dipaksa atau ditipu dijadikan pekerja seks demi devisa, jadi pahlawan sehari, kemudian dilupakan. Sudah waktunya perempuan harus melawan, melawan sehormat-hormatnya. Pengarang tersohor Indonesia , Pramoedya Ananta Toer mengajarkan tentang perlawanan perempuan dan pembentukan karakter, dalam novelnya yang paling popular Bumi Manusia. Tahun ini untuk pertama kalinya sosok perempuan pelawan, gundik dan perempuan terpelajar sekaligus, Nyai Ontosoroh, muncul di atas panggung.

Adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: "Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. .."

Naskah : Faiza Mardzoeki, Sutradara : Wawan Sofwan
Tempat Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki,Jakarta (12, 13, 14 Agustus 2007)

AKTOR Salma, Rudi Wowor Restu Sinaga, Ayu Diah Pasha, Madina Wowor, Temmy, Sita"RSD" Nursanti, William Bivers, M Hendrayanto, Teuku Rifnu Wikana,Nuansa Ayu, Felencia Hutabarat, Antony Ayes, Temmy H, Rusman, Joint,Bowo GP, Syaeful Amri-Ari-, Rusman, Pipien Putri, Rebecca Henscke

  • TIM ARTISTIK
    Direktur Artistik : Dolorosa Sinaga
    Co Penata Artistik: Gallis A.S
    Penata Musik : Fahmi Alatas
    Penata Busana : Merdi Sihombing,
    Penata Lampu : Aziz Dying & Sari
    Sound Engineer : Mogan Pasaribu
    Koreografer: Pipien Putri
    Ticket:
    VIP Rp 100.000,00
    Wings Rp 75.000,00
    Balkon Rp 30.000,00

    Nonton Hemat khusus Mahasiswa dan pelajar pada pertunjukan Hari Senin
    13 Agustus 2007) mendapat diskon 20%, dengan menunjukan kartu mahasiswa/ pelajar
  • Tiket dibeli pada bulan Awal Juli 2007
  • Namun, untuk lebih aman dan pasti anda mendapatkan ticket, bisa menghubungi sekarang juga untuk booking ke : Miranda Putri di: 021-70764004 dan 081808701099 atau ke Sekretariat: Jl. Tebet Barat Dalam II D NO. 21, Jakarta, Indonesia 12810 Telp/fax : (62-21) 8302028. Atau kontak ke: Dewi Djaja 08159787838, 021-68592885 dan Efriza di 08155006450 Email: nyaiontosorohtheatr e@yahoo.co. id, Multiply : http://nyaiontosorohtheatre.multiply.com

Monday, June 18, 2007

STATEMENT AJI

TOLAK REVISI UU PERS, PERJUANGKAN KEBEBASAN PERS

Belum genap satu dasawarsa masyarakat Indonesia menikmati kebebasan pers telah muncul ancaman baru dengan beredarnya DRAFT Revisi Undang Undang Pers Nomor 40/1999 versi Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Dalam konsiderans awal Revisi UU Pers Nomor 40 versi Kominfo ini, disebutkan "pers punya tanggung jawab membantu pemerintah melaksanakan program-program pembangunan, menjalankan fungsi pemerintahan dll

Dengan ini Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan sikap sbb:

  1. MENOLAK KONSEP Undang-Undang Pers Nomor 40 versi Kominfo yang secara gamblang bertendensi memutarbalikkan esensi kebebasan pers yang telah dijamin Konstitusi, menyerimpung fungsi sosial-politik pers, dan mendudukkan pers sebagai subordinat/alat kekuasaan pemerintah. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meyakini kebebasan pers dan kebebasan publik untuk mendapatkan informasi merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM) yang tidak boleh dikurangi dalam keadaan apapun. Kebebasan pers, kebebasan berekspresi, kebebasan berorganisasi, menyampaikan pendapat secara lisan maupun tulisan, wajib dilindungi oleh negara dan masyarakat.
  2. MENOLAK upaya pihak-pihak yang hendak mengembalikan Indonesia ke zaman kegelapan informasi, penyeragaman informasi, dan pengendalian pers oleh aparat birokrasi sipl dan militer seperti yang terjadi pada masa Orde Baru. AJI berpendapat upaya merevisi UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dewasa ini merupakan upaya Negara mengembalikan fungsi Departemen Penerangan (Deppen) sebagai lembaga sensor pemberitaan dan informasi publik dan lembaga pengatur organisasi pers. Dalam sistem demokrasi, pers yang independen dan profesional merupakan pilar keempat setelah lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pers berfungsi mengontrol jalannya kekuasaan negara, bukan sebaliknya.
  3. REVISI UU PERS bukanlah hal penting (urgen) pada saat negara
    menghadapi berbagai masalah yang lebih mendasar, seperti kemiskinan, pemberantasan korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Masih banyak Rancangan Undang Undang lain seperti RUU Kebebasan Mencari Informasi Publik (KMIP)
    atau revisi Kitab Undang Acara Pidana (KUHP) yang lebih patut didahulukan. Alasan bahwa UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 belum lengkap atau terlalu liberal, tidak bisa dijadikan alasan pembenar revisi. Sebaliknya, AJI akan memperjuangkan UU Pers Nomor 40 Tahu 1999 sebagai Lex Spesialis dan melengkapinya dengan aturan pendukung UU Pers yang diperlukan.
  4. ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN (AJI) mengajak seluruh komunitas pers dan masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga kebebasan pers dan hak informasi publik dari campur tangan negara dan upaya pengaturan yang berlebihan oleh
    aparatur negara dan kaum birokrat.

Jakarta, 16 Juni 2007

Aliansi Jurnalis Independen

1. Heru Hendratmoko – Jakarta
2. Abdul Manan – Jakarta
3. Muhammad Hamzah – Banda Aceh
4. Ayi Jufridar – Lhokseumawe
5. Dedy Ardiansyah – Medan
6. Hasan Basril – Pekanbaru
7. Juwendra Asdiansyah – Lampung
8. Jajang Jamaludin - Jakarta
9. Margiyono – Jakarta
10. Mulyani Hasan – Bandung
11. Tarlen – Bandung
12. Bambang Muryanto - Yogyakarta
13. Dwidjo Utomo Maksum – Kediri
14. Abdi Purnomo – Malang
15. Mahbub Djunaidi – Jember
16. Sunudyantoro – Surabaya
17. Hamluddin – Surabaya
18. Rofiqddin – Semarang
19. Adi Nugroho – Semarang
20. Komang Erviani – Denpasar
21. Mursalin – Pontianak
22. Veraneldy – Padang
23. Fadli – Makassar
24. Cunding Levi – Jayapura
25. Rahmat Zena – Makassar
26. Amran Amier – Palu
27. Bambang Soed – Medan
28. Ruslan Sangadji – Palu
29. M. Nasir Idris – Kendari
30. M. Faried Cahyono – Jakarta
31. Andy Budiman – Jakarta
32. Luviana – Jakarta
33. Suwarjono
34. Nugroho Dewanto
35. AA Sudirman

Thursday, June 14, 2007

Alek Nagari Marunggi (Pariaman Folk Festival)

17 – 26 Juni 2007
Menyambut HUT Kota Pariaman ke 5

Kerjasama Masyarakat Nagari Marunggi dengan dukungan Pemda Kota Pariaman dan Aliansi Indonesia Festival (ALIF)

A. LATAR BELAKANG

Tradisi budaya dalam masyarakat Minangkabau, baik di daerah pedalaman maupun di pesisiran, umumnya ditopang oleh tradisi sosial yang berakar kuat di dalam masyarakat pendukungnya. Dapat dikatakan tradisi budaya, termasuk tradisi kesenian merupakan bagian yang integral dari suatu masyarakat, terutama yang hidup di daerah pedesaan atau nagari.

Menurut para ahli, seni tradisi merupakan wadah pengikat solidaritas sosial dan penyampai nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat pendukungnya, di samping menjadi media hiburan. Dengan demikian fungsi seni tradisi dalam masyarakat begitu penting, dan patut untuk diberikan perhatian oleh semua pihak.

Kota Pariaman sebagai Kota Pantai, yang terletak di pantai barat Sumatera, merupakan suatu wilayah budaya yang memiliki berbagai budaya dan seni tradisi yang unik. Dari daerah ini tumbuh tradisi kesenian seperti Ulu Ambek, Indang, Gandang Tambua, yang menjadi identitas budaya Pariaman.

Berbagai seni tradisi tersebut biasanya ditampilkan dalam acara Alek Nagari, yang merupakan sebuah institusi budaya yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau. Alek Nagari atau dapat juga disebut dengan Festival Rakyat (Folk Festival), merupakan simpul untuk masyarakat nagari (anak nagari) untuk menjalin silaturahmi budaya secara partisipatif dan berkelanjutan. Dalam konteks kebudayaan Minangkabau Alek Nagari, selain berfungsi sebagai jembatan silaturahmi, sekaligus juga berperan sebagai ruang ekspresi untuk mempertahankan dan mengembangkan spirit budaya yang mereka miliki.

Dengan alasan ini pulalah, Alek Nagari Marunggi kembali dirancang dan direvitalisasi, sebagai bagian dari upaya menghidupkan semangat dan tradisi budaya yang ada di Kota Pariaman.

B. TUJUAN

Alek Nagari Marunggi (Pariaman Folk Festival) secara umum bertujuan untuk:

  1. Menampilkan berbagai keunikan budaya yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Kota Pariaman, sebagai bagian yang penting dari budaya Indonesia.
  2. Merevitalisasi kelembagaan budaya “Alek Nagari” yang pernah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Nagari Marunggi kususnya dan Kota Pariaman umumnya.
  3. Mengembangkan seni tradisi sebagai media pendidikan budaya dari berbagai generasi yang hidup di dalam masyarakat Pariaman, baik yang tinggal di kampung maupun di rantau.
  4. Mengembangkan jaringan budaya antar masyarakat nagari (anak nagari) di Kota Pariaman.
  5. Mendukung program Pemda Kota Pariaman dalam menggerakkan pariwisata budaya berbasiskan masyarakat.

C. PROGRAM

Kegiatan yang akan ditampilkan selama Alek Nagari Marunggi ini akan mempertunjukan berbagai kesenian anak nagari yang hidup di Kota Pariaman, antara lain:

  1. Pertunjukan silat tradisional khas Pariaman Ulu Ambek
  2. Pertunjukan Seni Bernuansa Islam, Baindang
  3. Pertunjukan musik tradisional Pariaman, Gandang Tambua
  4. Pertunjukan Silat antar perguruan Silat
  5. Pertunjukan sastra tutur Minangkabau Pasambahan
  6. Pertunjukan tradisi penyambutan Silat Galombang

D. JADWAL DAN TEMPAT

Alek Nagari Marunggi (Pariaman Folk Festival) dilaksanakan antara 17 Juni – 26 Juni 2007, bertempat di Desa Marunggi Kenagarian Sunua Kurai Taji, Kecamatan Pariaman Selatan. Kegiatan pertunjukan dilaksanakan siang malam sesuai dengan tradisi Alek Nagari yang tumbuh dan berkembang di Pariaman.

E. PESERTA

Peserta Alek Nagari Marunggi ini adalah berasal dari Nagari-nagari yang ada di Kota Pariaman, yang merupakan perwakilan komunitas budaya dari setiap nagari tersebut. Komunitas budaya (seni) yang terlibat dalam Alek Nagari Marunggi ini antara lain kelompok Silat Ulu Ambek, Kelompok Indang, Kelompok Silat, Kelompok Musik Gandang Tambua dan musik saluang dan dendang.

F. ORGANISASI PELAKSANA

Pensipnya Alek Nagari Marunggi dilaksanakan oleh masyarakat nagari setempat dengan dukungan Pemda Kota Pariaman, yang difasilitasi oleh Edy Utama dan Nursyam saleh. Masyarakat Nagari Marunggi pada dasarnya telah memiliki institusi Alek Nagari dan ruang budaya yang disebut sebagai Laga-Laga, namun dalam beberapa tahun belakangan ini tidak dilaksanakan lagi. Penyelenggaraan Alek Nagari Marunggi diharapkan akan dikelola secara mandiri oleh Anak Nagari Marunggi bersama pimpinan masyarakat yang ada di sana.

Kontak Person
Edy Utama
Perumahan Unand BIII/04/02
Ulu Gadut-Padang
Sumatra Barat-INDONESIA
Telp. 0751-73164 Fax 0751-35667
HP. 0811660108


Sunday, June 10, 2007

ESTIVAL SENI SURABAYA 2007

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, bila kita membaca pelbagai buku puisi dan ruang sastra di surat kabar, tahulah kita perihal lima kota yang secara nisbiah memberi kita lebih banyak penyair ketimbang kota-kota lain di Nusantara. Itulah Bandarlampung, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan Denpasar.

"Dan yang lebih berlimpah itu saya harap membuka jalan ke yang lebih berharga. Tanpa uluran tangan kelembagaan dari manapun juga, hanya lingkungan pergaulan sastra dan tekanan dari khazanah dunialah yang mungkin dapat memperpanjang kiprah si penyair," tutur Nirwan.

Selain mengadakan diskusi dan pertunjukan sastra, panitia FSS 2007 juga menerbitkan sebuah buku sastra yang diberi tajuk Lima Pusaran disertai kata pengantar Nirwan Dewanto. Diantara karya mereka itulah dibacakan dalam Malam pertunjukan Sastra. Menampilkna Teater Mozaik malang, mengangkat naskah adaptasi dari novel Hubbu karya Mashuri. Karya novel ini memnangkan Lomba Penulisan Novel yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta 2007.


DISKUSI SASTRA

Rabu, 13 juni 2007 Pukul 10.00 WIB di Gedung Mitra1 Kompleks Balai Pemuda Jl. Gubernur Suro 15 Surabaya. Pembicara: Nirwan Dewanto. Acara: Peluncuran buku puisi LIMA PUSARAN (Zen Hae, Iswadi Pratama, S Yoga, Gunawan Maryanto, Sindu Putra)

PERTUNJUKAN SASTRA

Judul: Hubbu Teater Mozaik(Malang)

Naskah: Mashuri (Pemenang penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2007) Sutradara: Ragil Sukrisno di Gedung Utama Balai Pemuda pada Rabu, 13 Juni 2007 pukul 19.00 WIB

Sejak beberapa tahun terakhir, juga menjadi fenomena pada 2007, adalah hiperrealisme: suatu keadaan yang terjadi di belahan dunia mana saja begitu cepat diketahui di sudut dunia lainnya. Begitu cepatnya, hanya dalam hitungan detik/pulsa. Kita sedang memasuki "Abad Digital", segalanya computerize, cybernetic, dan blow up serta massal, terjadi konvergensi antara teknologi komunikasi, media dan seni. Peradaban Baru juga muncul di tengah masih adanya perang, terorisme, ketidakadilan, kelaparan, harapan hidup layak, kerusakan ekologis yang kompleks dan paradoks. Seni, di tengah harapan layak di masa depan dan kerancuan serta kekerasan dunia, kini bisa bicara lembut, bisa pula berteriak, untuk menghimbau amanatnya seperti embusan terapi: membangun Peradaban Baru.

SEMINAR KEBUDAYAAN

Kamis, 14 Juni 2007 pukul 14.00 WIB di Gedung Mitra 1 Kompleks Balai Pemuda Jl.Gubernur Suryo 15 Surabaya Pembicara: Arif Bagus Prasetyo, Yasraf A.Piliang, Sony Karsono
Moderator: Audifax

Project Officer Sastra: Mardiluhung

Tuesday, June 5, 2007

66 Tahun Sutardji Calzoum Bachri


Pekan Presiden Penyair

Dalam rangka HUT Sutardji Calzoum Bachri ke-66, yang jatuh pada 24 Juni 2007, Yayasan Panggung Melayu (YPM) akan menggelar Pekan Presiden Penyair, pada 14-19 Juli 2007. Perhelatan itu sendiri bakal dipusatkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Salah satu agenda acara dari Pekan Presiden Penyair adalah Lomba Baca Puisi Internasional Piala Sutardji Calzoum Bachri. Lomba ini bersifat internasional, terbuka bagi peserta berkewarganegaraan mana pun, dan bersifat umum (lintaskategori) . Menurut Ketua Yayasan Panggung Melayu, Asrizal Nur, satu-satunya kriteria dalam lomba ini hanyalah batasan usia minimal peserta 15 tahun.

Lomba di babak penyisihan akan dinilai oleh tiga orang juri (Yose Rizal Manua, Ahmadun Y Herfanda, dan Sunu Wasono) dan di babak akhir juga akan dinilai oleh tiga orang juri (Leon Agusta, Slamet Sukirnanto, dan Tomy F Awuy). Hadiah yang disediakan adalah uang tunai total 15 juta rupiah, piala Sutardji Calzoum Bachri, dan ziarah budaya ke Makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Bagi yang berminat, pendaftaran dapat dilakukan di (1) Kantor Arif Rahman Hakim, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, telp +62-21-93861703. +62-21-68644945; (2) Yayasan Panggung Melayu, Perum Beji Permai Blok T3, Beji, Depok, telp/faks +62-21-7752144; (3) Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah (TMII), telp +62-21-8409371; (4) Sanggar Ayodyapala Mal Depok, Mal Depok, Margonda Raya Lt. 3, telp +62-21-7751653.

Selain Lomba Baca Puisi, Pekan Presiden Penyair juga akan diisi dengan berbagai acara menarik lain, di antaranya adalah Seminar Internasional (19 Juli 2007) menghadirkan 13 pembicara pakar sastra dari berbagai negara, seperti V. Braginsky (Rusia), Dato Kemala (Malaysia), Prof. Dr. Koh Young-Hun (Korea), Suratman Markasan (Singapura), dan masih banyak lagi. "Kita akan berupaya membahas karya-karya Tardji dari beragam sudat pandang sastra," ungkap Maman S Mahayana, penanggung jawab seminar.

Acara yang lain adalah Panggung Apresiasi Karya Sutardji menampilkan para Menteri (antara lain Meutia Hatta, Adyaksa Dault, MS Ka’ban, Lukman Edi, dll.), para Bupati dan Walikota (Walikota Tanjungpinang, Bupati Bengkalis, Bupati Kota Baru, Wakil Bupati Bintan, Bupati Pelalawan, Bupati Indragiri Hulu, dll.), dan para seniman terpilih se-Indonesia.

Selain itu terdapat pula Talkshow Sutardji bersama Guru dan Siswa, Pameran Foto Sutardji. Keseluruhan perhelatan akan diakhiri dengan Malam Puncak Pergelaran Seni dan Pidato Kebudayaan yang akan menampilkan Ignas Kleden, Sutardji Calzoum Bachri sendiri, serta direncanakan akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. ***

Eri Anugerah
a/n Yayasan Panggung Melayu

NB:
Contact person:
Asrizal Nur (Ketua Panitia Acara)08176378914
Eri Anugerah (Kordinator Pers) 08159930605

Monday, June 4, 2007

Pertunjukan "Pesta Pencuri" Teater Bengkel Muda Surabaya

JADWAL
  • Sabtu, 16 Juni 2007, pukul 19.00, di Lokasi Pengungsian Korban Lumpur Panas Lapindo, Pasar Baru Porong, Sidoarjo
  • Sabtu, 23 Juni 2007, pukul 19.00, di Lapangan Tambak Asri, Kompleks Lokalisasi Kremil, Surabaya

Pengantar

Lakon ini diambil dari naskah asli berjudul Le Bal des Voleurs (1938), karya seorang Play Wright asal Prancis, Jean Anouilh. Diterjamahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Lucienne Hill menjadi Thieves’ Carnival (1952). Adapun Pesta Pencuri adalah terjemahan Bahasa Indonesia oleh Asrul Sani (Pustaka Jaya, 1986).

Naskah ini memang bercerita tentang pencuri. Harian Sinar Harapan edisi 22 Maret 2002 pernah menulis: “Jean Anouilh seakan tahu dramanya ini bakal terjadi di suatu tempat di Asia Tenggara”.

Terus terang kita tidak berani bilang drama lucu ini juga terjadi di negeri sendiri. Masalahnya ilmu kontra permalingan yang ada belum mampu menganalisis kasus-kasus permalingan di Indonesia. Di sini, soal yang satu ini terlalu sulit, rumit dan sekaligus teramat menggelikan,” demikian tulis koran sore itu.

Sutradara Bengkel Muda Surabaya, Zainuri, sengaja ingin kembali mengangkat naskah drama ini untuk dipentaskan di sejumlah kota karena banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya.

Sinopsis

Tiga pencuri jalanan – Bonong, Cacing, dan Cengik – mencoba menghadiri undangan Pesta Para Pencuri di rumah dedengkot pencuri, Keluarga Ayu Selintas dan Lowo Kumolo. Ketiganya bermaksud menguras harta keluarga kaya ini.

Namun ternyata di rumah tersebut sudah banyak tamu yang mempunyai tujuan sama dengan ketiga pencuri jalanan ini. Di pesta ini semua tamu mempertunjukkan kelihaian mencuri. Tentu sasarannya adalah harta sang tuan rumah.

Tapi ternyata tuan rumah lebih pandai membaca gelagat para tamunya. Justru di balik Pesta Pencuri ini Ayu Selintas mengendalikan aturan main dari semua yang ada dibenak tamunya. Para tamu dijadikan korban kemuslihatan dari kekayaan yang diumpankannya.

Mereka ada yang ditangkap polisi, sementara yang lain melarikan diri hanya dengan membawa barang perhiasan curian yang tidak seberapa harganya. Dari sinilah keluarga Ayu Selintas terselamatkan dari incaran polisi.

Staf Produksi

Penasehat: Farid Syamlan (Ketua Bengkel Muda Surabaya), Amang Mawardi, Sabrot D. Malioboro, Rusdi Zaki

Pimpinan Produksi : Hanif Nashrullah
Sekretaris : Sesilia Menuk Wijayanti
Bendahara : Dedi Obeng Supriadi (Obeng)

Staf Sutradara

Penulis Naskah:Jean Anouilh
Penerjemah: Asrul Sani (Pustaka Jaya, 1986)

Sutradara:Zainuri

Supervisi: Amir Kiah

Asisten Sutradara:Dedi Supriadi (Obeng)

Pemain:Saiful Hadjar,
Dedi Supriadi (Obeng),Saiful Arif (Ipung),Mastohir, Taufik Sholekhuddin Sofjan, Samsul Arifin, Rizki Putri Maharani (Kiki), Ida Ayu Kade Ari Trisnawati (Gek), Sesilia Menuk Wijayanti, Marjangkung (Amar)
Artistik: Saiful Hadjar

Pembantu Umum: Jhon Pa’i

Tentang Jean Anouilh

Lahir di Bordeaux, 23 Juni 1910. Namanya populer sejak era Perang Dunia II. Selain menulis drama dia juga dikenal sebagai penulis film dan sutradara. Bakat menulisnya telah tampak sejak usia 9 tahun. Di usia itu dia telah mengadaptasi naskah drama karya Edmond Rostand.

Namun dia pertama kali memainkan drama secara penuh pada usia 16 tahun. Sejak itu pula dia menyatakan ketertarikannya di bidang kepenulisan. Dia pun meninggalkan bangku kuliahnya di Fakultas Hukum, Sorbonne, Paris, dan memilih bekerja sebagai Copy Writer di sebuah perusahaan advertising.

Bersamaan dengan itu, demi meningkatkan penghasilannya, dia juga bekerja sebagai penyusun materi film untuk dipublikasikan. Adapun karirnya sebagai penulis diawali dari sebuah industri film. Yaitu ketika dia menjadi sekretaris di sebuah perusahaan film Comédie des Champs-Élysées (1931).

Dari sinilah dia mengawali menulis naskah yang sesungguhnya. L’Hermine (1932) adalah karya naskah drama pertamanya. Sejak itu, kemudian, hingga akhir hayatnya, dia telah menghasilkan sedikitnya 54 naskah drama.

Karya-karyanya yang populer meliputi Le Voyageur sans Baggage (1938), Antigone (1946) dan Becket (1959). Karya-karyanya terbilang berbeda satu sama lain. Sebagian besar berisikan kontras antara fantasi dan realitas. Tapi banyak juga yang klasik. Beberapa lainnya merupakan adaptasi dari naskah Yunani Kuno. Serta sisanya berupa eksplorasi tentang kehidupan dan cinta.

Banyak naskah-naskah dramanya yang kemudian diangkat menjadi karya film. Anouilh sendiri terhitung mulai berkolaborasi dalam film sejak 1936. Dia mengadaptasi beberapa karyanya, seperti Pattes Blanches (1949) dan Caroline Cherie (1954) yang kemudian disutradarainya sendiri.

Pada tahun 1970, hasil kerjanya dikenal dengan predikat Prix Mondial Cino Del Duca. Jean Anouilh menikahi seorang aktris, Monelle Valentin, pada tahun 1929 dan menghasilkan seorang putri, Catherine, sebelum akhirnya bercerai. Dia meninggal di Lausanne, Swiss, 3 Oktober 1987, akibat serangan jantung.

Tentang Zainuri (Sutradara)

Lahir di Surabaya, 1 Mei 1964. Aktif di Bengkel Muda Surabaya sejak 1984. Selain berteater, dia menulis puisi, esai dan cerita pendek yang dimuat di media massa lokal. Garapan-garapan dramanya, di antaranya, Kaca-Kaca, Orang-Orang Berpeci dan Nyai Adipati. Judul tersebut terakhir sempat dipentaskan untuk Temu Teater Indonesia 1993 di Solo. Pada tahun 2004 dia menyutradarai Polisi. Selain itu, dia punya Kelompok Musik ‘Bledhek Sigar’.

Tengang Pemain

Mastohir

Lahir di Surabaya, 29 September 1946. Kuliahnya di Fakultas Hukum, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dibuyarkan oleh peristiwa G30S/ PKI (1964). Sejak itu dia memfokuskan diri di bidang kesenian dengan bergabung di komintas Penggemar Seni Teater (Pensiter). Kemudian dia terlibat di Srimulat – mulai sebagai Penata Artistik, Pemain, hingga Sutradara – dan berpindah-pindah dari Surabaya, Solo, Semarang dan Jakarta (1966 – 2001). Pernah menekuni seni lukis di Akademi Seni Rupa Surabaya (1967 - 1969). Belakangan juga berperan di sejumlah sinetron.

Saiful Hadjar

Lahir di Surabaya, 30 Agustus 1959. Bergabung dengan Bengkel Muda Surabaya sejak 1978. Dia menulis puisi, bermain teater, seni rupa instalasi dan grafis. Puisi dan artikel budayanya pernah dimuat di berbagai media massa. Penggagas Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) ini telah menerbitkan buku Senapan Grafis (2005).

Dedi Supriadi (Obeng).

Lahir di Malang, 11 Maret 1967. Sebelum bergabung dengan Bengkel Muda Surabaya, dia pernah di Teater Idiot Malang dan Teater Api Surabaya. Pendiri Forum Sikat Gigi dan Teater Belgombes Malang ini pernah mengenyam bangku kuliah di Unmuh Malang. Sekarang jadi tenaga volunteer di suatu LSM yang menangani anak-anak jalanan.

M. Syaiful Arif (Ipung)

Lahir di Surabaya, 22 Desember 1969. Sarjana Seni Rupa dari IKIP Negeri Surabaya ini aktif di Bengkel Muda Surabaya sejak 1985. Pernah main drama dalam lakon Aduh, Bersamadi, Nyai Adipati, Jalan Tembakau, Laboratorium Gila, Racun Tembakau dan Polisi. Mengikuti Hibah Seni ke Malaysia, Singapura dan Thailand di tahun 2002. Sampai sekarang dia juga aktif bermain musik bersama Kelompok ‘Bledhek Sigar’.

Taufiq Sholekhuddin Sofjan

Lahir di Surabaya, 8 September 1974. Alumnus STKW Surabaya jurusan Seni Rupa Murni ini lebih dikenal sebagai aktifis teater. Sebelum di Bengkel Muda Surabaya dia telah bergabung dengan Teater Alif (1989) dan Teater API Indonesia (1993). Juga pernah terlibat di beberapa produksi Film dan Sinetron. Saat ini dia aktif membina kegiatan ekstrakulikuler bidang seni teater di beberapa Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), baik negeri maupun swasta, di Surabaya. Dia adalah salah satu penggagas Komunitas Teater SMA se-Surabaya dan sekitarnya (KATES).

Marjangkung (Amar)

Lahir di Bojonegoro, 15 Juli 1980. Mengawali belajar akting di LJ. Talent Agensi pada tahun 2006. Berperan dalam film “Kabut Sesaat”, produksi TVRI Surabaya, 2006. Sehari-harinya bekerja sebagai penjahit di sebuah perusahaan konveksi di Surabaya.

Samsul Arifin

Lahir di Surabaya, 1 Februari 1984. “Pesta Pencuri” adalah lakon perdananya. Sebelumnya dia lebih menekuni musik biola secara otodidak. Jika malam tiba, dia punya rutinitas: membuka warung di Pasar Keputran Surabaya.

Sesilia Menuk Wijayanti

Lahir di Surabaya, 11 Juni 1986. Mahasiswi jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unika Widya Mandala (UWM) Surabaya ini tergolong sebagai aktris senior di Teater Kedok, SMAN 6 Surabaya. Dia memang alumnus situ dan sempat menyutradarai adik-adiknya di Teater Kedok dalam Parade Teater Pelajar yang digelar oleh Dewan Kesenian Surabaya (2006). Saat ini, di kampusnya, dia menjabat sebagai Ketua Pengurus Harian Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bidang Kesenian. Dia ikut mendirikan Teater Bata UWM.

Rizky Putri Maharani (Kiki)

Lahir di Gresik, 14 Juni 1987. Mengenal dunia seni peran sejak aktif di Teater Cepak, SMAN 1 Gresik, dan sempat bermain dalam lakon “Dapur atas Tanah”, karya Gus Roin (2004). Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini kini – selain tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Peradilan (IMP) dan UKM Paduan Suara Unair – juga tercatat sebagai aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Surabaya.

Ida Ayu Kade Ari Trisnawati (Gek).

Lahir di Tabanan, 5 Agustus 1987. Bergabung Bengkel Muda Surabaya sejak 2006. Mahasiswi jurusan Psikologi Unika Widya Mandala (UWM) Surabaya ini juga aktif di UKM Teater Bata. Semasa SMA dulu dia pernah belajar ilmu beladiri Karate. Cita-citanya menjadi Penyiar Radio baru saja kesampaian.

Contact Persons: Zainuri, HP. 081357473656, Hanif Nashrullah, 08174802453, email:revolusioner@ hotmail.com