KODE-4

Tuesday, July 9, 2013

TIGA LEGENDA KOREOGRAFER PEREMPUAN

Wilayah Alternatif dan Tari Minang
Oleh: Indra Utama
Dosen Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang

Tari Minangkabau wujud berdasarkan usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak (pencaksilat Minangkabau) dengan unsur-unsur tari di luar pancak berdasarkan penggunaan teknik penciptaan tari baru untuk pementasan merangkumi teknik pengembangan gerak dan penggunaan elemen-elemen komposisi tari.
Kewujudan tari Minangkabau tersebut memunculkan fenomena karena pancak yang diambil sebagai asas gerak tarinya merupakan permainan kaum lelaki di ruang-ruang kinerja lokal dan regional. Melalui usaha hybriditi itu, pancak berubah menjadi tari pertunjukan yang dikuasai kaum perempuan baik sebagai penari, pencipta tari dan penggerak aktivitas tari di ruang-ruang kinerja nasional dan internasional. Oleh hal demikian, selama kurang lebih empat dasawarsa terakhir, kewujudan tari Minangkabau ramai dibicarakan pada berbagai forum akademis dan festival tari di dunia, dan menjadi wacana tersendiri berkait performativiti budaya Minangkabau yang diekspresikan melalui gerak tarinya.
Adalah Hoerijah Adam (1936–1971), koreografer yang pertama kali mencipta tari Minangkabau berdasarkan usaha hybridity unsur-unsur gerak pancak dengan unsur-unsur tari di luar pancak. Pada masa yang sama, Syofyani Yusaf (lahir 14 Disember 1935), koreografer satu angkatan dengan Hoerijah Adam, pun melakukan penciptaan tari baru berdasarkan usaha hybriditi unsur-unsur tari Melayu dengan gerak pancak. Pada dasawarsa selanjutnya, Gusmiati Suid (1942–2001), muncul sebagai koreografer yang meneguhkan kewujudan seni tari Minangkabau di pentas tari dunia berdasarkan eksplorasi gerak pancak.
Sehingga kini, usaha hybriditi yang dilakukan oleh ketiga koreografer wanita tersebut telah dilanjutkan oleh koreografer Minangkabau generasi penerus. Para koreografer yang umumnya terdiri dari kaum perempuan itu terus melakukan penelitian ke akar sumber perbendaharaannya di kampung-kampung dan mengolahnya menjadi tari Minangkabau baru. Tersirat kekuatiran, seandainya tindakan pewarisan pancak tidak segera dilakukan, maka produk budaya yang mengandungi nilai luhur suku Minangkabau akan hilang dari permukaan bumi.

Wilayah Alternatif
Penciptaan tari Minangkabau yang dilakukan berdasarkan usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak dengan unsur-unsur tari di luar pancak telah melahirkan wilayah alternatif dalam dunia seni pertunjukan Minangkabau yang oleh Homi Bhabha (1994) disebut sebagai third space. Wilayah alternatif tersebut memunculkan cabaran tersendiri kepada kaum perempuan Minangkabau untuk berkarya dalam wilayah seni pertunjukandi ruang publik meskipun pada dasarnya aturan kolonial adat Minangkabau melarang kaum perempuan menyertai aktivitas pertunjukan di hadapan orang ramai.
Ruang gerakkaum perempuan dalam dunia seni pertunjukan di Sumatera Barat mulai terbuka sejalan adanya kegiatan kesenian Melayu di sekolah-sekolah yang dipengaruhi oleh pementasan kelompok-kelompok sandiwara keliling dari Sumatera Utara sejak awal kemerdekaan. Masuknya pementasan sandiwara keliling tersebut cukup kuat mempengaruhi sistem pengetahuan, gagasan dan ide kaum terpelajar di Sumatera Barat sehingga menjadi inspirasi kepada mereka untuk membina kegiatan kesenian Melayu di sekolah-sekolah. Melalui kegiatan kesenian Melayu di sekolah-sekolah itu pula, kaum perempuan pun melibatkan diri di dalam aktivitas tari pertunjukan yang dapat ditonton oleh orang ramai meskipun pada awalnya hanya terbatas pada lingkungan sekolah sahaja.
Kegiatan kesenian di sekolah-sekolah menjadi inspirasi kepada Hoerijah Adam, Syofyani Yusaf dan Gusmiati Suid untuk melakukan penciptaan tari baru yang berasaskan kepada gerak pancak di mana secara tradisionalnya gerak pancak tersebut telah menjadi permainan (pamenan) masyarakat tradisi Minangkabau yang oleh masyarakat akademik disebut Tari Tradisional Minangkabau. Hasil ciptaan tari baru oleh ketiga-tiga koreografer wanita ini seterusnya melahirkan tari Minangkabau seperti mana yang dikenal saat sekarang. Kenyataan ini, oleh Kraidy (2005:148) disebut sebagai logika budaya globalisasi yang mensyaratkan adanya jejak budaya lain di dalam kebudayaan masyarakat lokal sebagai hal yang bermanfaat.
Di dalam penciptaan tari Minangkabau, Hoerijah Adam melakukan usaha hybriditi dengan cara mengambil motif-motif gerak pancak yang beliau hybrid dengan unsur-unsur tari di luar pancak berdasarkan teknik pengembangan gerak dan pengunaan elemen-elemen komposisi tari. Pengalaman Hoerijah belajar pancak kepada ayahnya dan guru-guru silat tradisi di berbagai daerah Minangkabau, serta belajar tari pertunjukan kepada Syofyan Naan serta terlibat secara aktif di dalam kegiatan workshop tari bersama seniman-seniman tari di Jakarta, telah membuka wacana berfikir beliau untuk melakukan usaha hybriditi tersebut. Berdasarkan usahanya itu pula, Hoerijah Adam dinyatakan sebagai pelopor pereka tari Minangkabau pertama yang menggunakan asas pergerakan pancak(redefining Minangkabau dance) (Sal Murgiyanto, 1991:78).
Syofyani Yusaf pula, melakukan usaha hybriditi dengan cara mengambil motif-motif gerak pancak namun di-hybrid dengan gerak tari Melayu berdasarkan penggunaan teknik dan tatacara pementasan tari Melayu. Pengalaman beliau belajar pancak kepada ayahnya dan belajar tari Melayu kepada dua tokoh tari Melayu di Sumatera Barat, yaitu Rasyid Manggis dan Djermias, telah membuka wacana berfikir Syofyani untuk mencipta tari berdasarkan usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak dengan unsur-unsur gerak tari Melayu. Usaha Syofyanitersebut disokong suami beliau, Yusaf Rahman, yang berperan sebagai pencipta musik iringan tari berdasarkan hybriditi unsur-unsur musik tradisi Minangkabau dengan musik Melayu. Kolaborasi antara mereka berdua menghasilkan tari Melayu-Minangkabau.
Gusmiati Suid melakukan usaha hybriditi secara lebih spesifik melalui eksplorasi gerak pancak bagi menemukan motif-motif gerak baru tari Minangkabau. Latar belakang pengalaman beliau belajar pancak kepada mamaknya yang pandeka, ditambah belajar tari kepada Hoerijah Adam, kemudian belajar tari secara akademik pada lembaga pendidikan kesenian Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang, sertapartisipasi beliau pada berbagai workshop dan festival tari di peringkat antara bangsa, telah membuka wacana berfikir Gusmiati untuk melakukan penciptaan tari Minangkabau berdasarkan konsep yang berbeda dengan dua pendahulunya. Dalam pada itu, Gusmiati berusaha mencipta gerak baru berdasarkan eksplorasi terhadap pancak dan meng-hybrid-nya dengan unsur-unsur tari modern sehingga melahirkan tari Minangkabau kontemporer. Usaha Gusmiati tersebut disokong oleh kemampuan penarinya yang secara umum pernah belajar teknik tari modern di Jakarta.
Di dalam perkembangannya, kewujudan tari Minangkabau sebagai penghasilan usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak dengan unsur-unsur tari di luar pancak, bukan saja dapat meneguhkan pertunjukan tari Minangkabau secara visual yang sifatnya arts di atas pentas, tetapi juga dapat memenuhi kepuasan kaum terpelajar Minangkabau karena kewujudan tari Minangkabau dapat membuka peluang pencapaian karir yang memunculkan identitas ke-Minangkabau-an melalui pertunjukan tari. Masyarakat Minangkabau pemilik pancakpun dapat menerima kenyataan ini karena mereka tidak memiliki kemampuan yang lebih dari sekedar melakukan apa yang mereka terima dari nenek moyangnya. Mereka dengan sukacita membolehkan dan merelakan bentuk-bentuk keseniannya diambil ataupun dipinjam untuk dijadikan sesuatu yang baru di dalam khazanah seni pertunjukan karena dapat memanifestasikan budaya Minangkabau dalam berbagai pementasan dan festival tari.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau memang tidak ada hukum yang melarang pemindahan atau peminjaman bentuk-bentuk produk budayanya menjadi sesuatu yang baru. Sebab, falsafah adat Minangkabau adalah merujuk kepada persoalan alur dan patut, rasa dan periksa. Usaha hybriditi di bidang tari pertunjukan adalah baik sebagai sebuah perubahan di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Selain itu, usaha hybriditi tidak pula mengurangi kewujudanpancak sebagai permainan kaum lelaki. Bahkan di dalam perkembangannya dapat membuka peluang untuk lebih dikenal di ruang-ruang kinerja nasional dan internasional.
Diskusi
Hoerijah Adam, ketika beliau mencipta tari Minangkabau berdasarkan asas gerak pancak, mendapat sokongan penuh dari ayahnya bernama Adam BB (1889-1953). Adam BB adalah seorang pandeka dan ulama nasionalis yang kharismatik di Kota Padangpanjang. Beliau memiliki pandangan modern di bidang pendidikan agama Islam dan mempelopori berdirinya perguruan Madrasah Irsyadin Naas (MIN). Beliau merupakan murid dari dua tokoh pembaharu Islam di Sumatera Barat, yaitu Syech Abdul Karim Amarullah (ayahanda kepada HAMKA) dan Syech Daud Rasjidi di Balingka. Di perguruan Madrasah Islam itu, Adam BB memasukkan pelajaran dan kegiatan kesenian sebagai mata pelajaran yang dapat dipelajari oleh pelajar wanita. Antara pembelajaran kesenian yang diajarkan adalah kegiatan pancak dan pamenan dengan mendatangkan seorang guru silek tuo dari kampung terdekat bernama Pakih Nandung. Kepada Pakih Nandung, Hoerijah pun ikut belajar pancak dan pamenan bersama murid-murid Madrasah pada tahun 1951 - 1954.
Pada mulanya, proses kreatif Hoerijah dilaksanakan di dalam Madrasah saja dengan perlindungan penuh dari ayahnya. Berdasarkan perlindungan dari ayahnya itu, Hoerijah dapat berkarya tanpa hambatan dan protes dari kaum adat dan agama di Sumatera Barat. Usaha Hoerjah ini pula mendapat sokongan dari saudara-saudara lelakinya yang semuanya bergerak dalam bidang musik. Pada masa itu, Hoerijah dapat mencipta beberapa tari baru yang menggunakan asas gerak pancak, iaitu tari galombang, tari sewah, tari piring dan tari sibadindin.
Sepanjang tahun 1968 – 1971 Hoerijah pindah ke Jakarta dan mendapat kesempatan berkolaborasi dengan koreografer dan guru tari di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Di Jakarta beliau meneruskan usaha penciptaan tari baru berdasarkan hybriditi unsur-unsur gerak pancak dengan unsur-unsur tari di luar pancak yang disokong oleh teman-temannya dari LPKJ. Di Jakarta itu pula nama beliau mulai dikenal sebagai penari dan pereka tari baru Minangkabau melalui ciptaan tari payung, tari sepasang api, tari barabah dan dramatari Malin Kundang. Karya-karya tari ciptaan Hoerijah Adam tersebut dapat diterima masyarakat Minangkabau terutamanya kaum terpelajar di Jakarta sebagai warisan yang membebaskan kaum perempuan Minangkabau tampil di ruang publik melalui kegiatan tari yang menggunakan unsur-unsur gerak pancak tanpa menimbulkan gejolak dari kaum lelaki sebagai pemilik aktivitas pancak.
Syofyani Yusaf memulai aktivitas seni tari melalui kegiatan kesenian di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bukittinggi. Tetapi jauh sebelum itu, beliau sudah aktif berkesenian karena lahir dari keluarga pencinta kesenian tradisional Minangkabau. Ayahnya, Bustamam St. Makmur adalah tokoh randai sekaligus guru pancak aliran silek tuo di kota Bukittinggi. Manakala ayahanda kepada Bustamam pula, bernama Datuk Tumanggung, adalah seorang yang menguasai pancak dan tari piring di atas pecahan kaca. Kepandaian ini telah diturunkan kepada Syofyani dari Datuk Tumanggung. Di bawah perlindungan ayah dan datuknya itu pula, Syofyani tampil menari di hadapan publik.
Proses kreatif Syofyani dalam bidang seni tari mulai berkembang saat beliau menjadi mahasiswa di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Di perguruan tinggi tersebut kegiatan kesenian Syofyani mendapat sokongan secara kreatif dari seorang pereka musik berbakat, Yusaf Rahman, yang kemudian menjadi suaminya. Syofyani dan Yusaf Rahman akhirnya mendirikan Syofyani Dance Group dan memiliki studio sendiri di kota Bukittinggi. Bersama group-nya itu, mereka mencipta tari dan musik berdasarkan hybriditi unsur-unsur kesenian Melayu dengan kesenian Minangkabau. Antara karya tari beliau yang terbaik adalah tari payung, tari saputangan, dan tari piring di atas pecahan kaca yang mengkombinasikan unsur-unsur gerak pancak dengan gerak tari Melayu.
Koreografer wanita Minangkabau ketiga yang berkongsi aspirasi di dalam membebaskan wanita Minangkabau dari pandangan matrilineal konservatif melalui tarian adalah Gusmiati Suid (1942-2001). Gusmiati dibesarkan dalam sebuah keluarga penggerak aktivitas silek kumango, yaitu aliran pancak yang masuk di dalam keluarga Silek Tuo di Luhak Nan Tigo. Sejak kecil Gusmiati telah didedahkan kepada dunia pancak oleh mamaknya yang pandeka. Selanjutnya, Gusmiati belajar menari kepada Hoerijah Adam dan di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang. Berdasarkan pengalamannya itu, Gusmiati terinspirasi untuk mencipta tari melalui usaha hybriditi unsur-unsur gerak pancak bagi mengekspresikan keinginan beliau melahirkan makna baru tentang kesejajaran wanita dalam kehidupan alam modern. Beliau menciptatari dengan menggunakan perbendaharaan gerak pancak yang pantas, kuat, tangkas dan tajam tetapi tidak meninggalkan kelembutannya untuk penari wanita. Hal tersebut merupakan pencerminan dari pemahaman beliau terhadap pepatah siganjualalai, samuik tapijak indak  mati namun alu tataruang patah tigo.
Keberadaan Gusmiati Suid sebagai koreografer semakin diakui setelah beliau pindah ke Jakarta. Di Jakarta, beliau mendapatkan ruang lebih besar untuk mencipta tari yang terinspirasi dari pancak sehingga melahirkan beberapa karya tari bernilai monumental seperti tari Rantak, tari Alang Babega, tari Gandang, Kabar Burung dan Api Dalam Sekam. Semua karya tari Gusmiati ini dinilai oleh sebahagian pengamat sebagai koreografi yang berani, keras dan teguh yang membawa banyak kontroversi dan kekaguman.
Kesimpulan
Perbincangan mengenai transformasi budaya di Sumatera Barat tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dunia pendidikan. Munculnya lembaga pendidikan formal yang mengajarkan mata pelajaran kesenian di Sumatera Barat sememangnya memiliki peranan penting di dalam merubah sistem pengetahuan, gagasan dan ide orang Minangkabau ke peringkat wacana rasional dan logis. Pemahaman baru yang diakibatkan oleh adanya perubahan sistem pengetahuan dan gagasan sebagai dampak pendidikan tersebut menjadi kekuatan yang tidak tampak (invisible power) kepada peserta didik sehingga mampu mengarahkan manusia pelaku kebudayaan untuk berperilaku sesuai pengetahuan dan gagasan yang dimilikinya (Sjafri Sairin, 2002:1). HoerijahAdam misalnya, dibesarkan dalam lingkungan perguruan Madrasah yang didirikan oleh ayahnya yang memiliki pandangan Islam modern. Di Madrasah tersebut Hoerijah belajar pancak, pamenan, musik dan tari bersama-sama pelajar lainnya. Dalam pada itu, Hoerijah Adam merupakan siswa istimewa yang mampu mencipta tari berdasarkan pengalaman belajar kesenian di Madrasah itu. Demikian pula, Syofyani dan Gusmiati Suid. Kedua koreografer ini berasal dari keluarga yang memiliki hubungan famili dengan pakar pancakdari aliran silek tuo yang memiliki pandangan reformis bagi memberi peluang kepada anak-anak perempuan mereka belajar pancak seperti mana yang diajarkan kepada anak-anak lelaki.
Hoerijah Adam, Syofyani dan Gusmiati Suid bernasib baik memiliki keluarga yang open minded dan memberi sokongan secara fisikal dan spiritual kepada mereka sehingga penglibatan mereka sebagai kaum perempuan di dalam aktivitas tari pertunjukan yang menggunakan perbendaharaan pergerakan pancak tidak mendapat sembarang hambatan dari orang-orang yang memiliki pandangan konservatif. Selain itu, sokongan tersebut juga mereka dapatkan dari lembaga pendidikan tinggi kesenian di Sumatera Barat dan Jakarta, seperti dari Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) dan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang.
Sekolah adalah lembaga netral yang tidak berpihak pada mana-mana kepentingan sosial kecuali hanya untuk pencerdasan manusia. Program yang dijalankan oleh lembaga pendidikan ini pun adalah di luar kuasa lembaga adat. Oleh itu, kehadiran sekolah dengan berbagai-bagai aktivitasnya memiliki legalitas tersendiri untuk melaksanakan program sekolah yang berfungsi sebagai agen perubahan.
Adalah hal yang menarik bahawa perubahan sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dapat diterima oleh umumnya masyarakat Minangkabau. Kenyataan ini lebih disebabkan karena masyarakat Minangkabau menganut falsafah berguru kepada alam yang merujuk kepada persoalan alur dan patut, rasa dan periksa. Maknanya adalah, bilamana sebuah perubahan dapat memperkaya apa yang sudah ada dan sesuai dengan keadaan manusia penggunanya, maka ianya dapat diterima sebagai sebuah pengayaan. Bahawa sesuatu yang bagus dengan sendirinya akan terpakai dan yang tidak bagus dengan sendirinya pula akan terbuang. Pepatah Minangkabau menyatakan ma-ambiak contoh ka nan sudah, ma-ambiak tuah ka nan manang.
Bagi masyarakat Minangkabau, proses hybriditi yang memunculkan wilayah alternatif di dalam bidang seni tari dianggap sebagai hal yang baik karena dapat membuka peluang baru kepada peminatnya untuk mencapai prestasi di bidang tari pertunjukan. Oleh itu, masyarakat Minangkabau dapat menerimanya seperti mana mereka menerima sebuah perubahan, termasuk perubahan dari pandangan matrilineal konservatif yang membatasi ruang gerak kaum perempuan di dunia seni pertunjukan kepada pandangan pasca-kolonial modern yang membebaskan kaum perempuan menyertai aktivitas tari di ruang publik.