KODE-4

Monday, May 21, 2007

ANAS NAFIS

Referensi Minang yang Berjalan

Dalam usia 74 tahun ia masih tampak cekatan dan cerdas. Jika ditanya sesuatu, dengan sigap ia menjawab panjang lebar sembari meraih buku di rak buku sederhana di ruang tamunya yang berisi ratusan referensi yang kebanyakan dalam bahasa Belanda atau tulisan Arab-Melayu.

Pagi itu dia menghabiskan dua gelas kopi hangat dan merokok tak putus-putusnya. Ia adalah Anas Nafis, budayawan Minang yang disegani.

Anas Nafis membuka pembicaraan soal asal nama Indonesia. "Sesungguhnya, nama Indonesia orang bule yang menemukan. Tetapi, pada zaman penjajahan, Belanda enggan mendengar, apalagi memakainya. Untuk bangsa Indonesia, mereka lebih suka memakai kata inlanders, atau inheems (bumiputra) atau bevolking van Nederlandsch Indie (penduduk Hindia Belanda)," katanya.

Anas Nafis juga menyebut suatu kekeliruan besar bila ada anggapan bahwa nama Indonesia dipakai pertama kali oleh etnolog pengembara Adolf Bastian pada tahun 1884. Itu bisa dibaca dalam Het Kolonial Weekblad tanggal 16 September 1929 No 37 halaman 11 dan Encyclopaedie van Winkler Prins (3e dr, 1908) serta Encyclopaedie van Nederlandsch Indie (1918).

Menurut Anas Nafis, yang menemukan kata Indonesia adalah JR Logan seperti tertulis dalam Journal the Indian Archipelago and Eastern Asia (Jilid IV tahun 1850 halaman 254, dengan judul The Ethnologi of the Indian Archipelago. Logan memilih nama Indonesie untuk tanah Kepulauan Hindia dan Indonesiers bagi penduduknya.

Mengilhami

Sejumlah ide bisa mengalir begitu saja dari ceritanya. Sastrawan AA Navis (1924-2003) saat menulis cerpen Robohnya Surau Kami (1956) dan sejumlah cerpen lainnya mengaku mendapat idenya dari Anas Nafis.

Saat Eros Djarot hendak mencari referensi tentang pahlawan Aceh Cut Nyak Dien, seorang karyawan Perpustakaan Nasional Jakarta membawa Eros kepada Anas Nafis. Anas Nafis dengan senang membantu, tetapi dia tak tahu bahan yang dibutuhkan itu untuk membuat film Cut Nyak Dien.

Ketika Wali Kota Padang Fauzi Bahar datang ke rumahnya mencari referensi tentang Bagindo Aziz Chan yang diusulkan menjadi pahlawan nasional, Anas memberi bahan sangat lengkap dan ikut menuliskannya di surat kabar daerah. Anas yang menduda dengan tiga anak yang belum berkeluarga senang ketika kini Bagindo Aziz Chan resmi menjadi Pahlawan Nasional.

Pusat dokumentasi

Di Sumatera Barat (Sumbar), Anas Nafis tidak asing lagi bagi banyak kalangan. Setiap hari ada saja yang datang ke rumahnya di Jalan Aur Duri I No 3A Padang.

"Prinsip saya, untuk kemajuan dan kemaslahatan orang banyak, apa yang saya punya silakan manfaatkan. Apa yang bisa saya bantu, saya bantu. Pinjam buku silakan, tidak bayar," ujarnya.

Sayangnya, ada juga peneliti, akademisi, dan seniman yang pinjam referensinya dan tidak mengembalikan. Anas ingat siapa saja yang belum mengembalikan bukunya. "Sudah 60 judul buku saya hilang, tidak kembali dari tangan peminjam," ungkap Anas.

Di rumah kontrakannya, Anas menyimpan 520 judul buku terbitan sebelum Perang Dunia II, ratusan bahkan ribuan kliping koran/majalah, serta 800 gambar dan foto tempo dulu yang ia repro lalu disimpan di komputer bekasnya, yang akhir-akhir ini sering berulah karena memorinya hampir penuh. Dia belum pernah kesampaian membeli komputer baru karena sebagai pensiunan kemampuan finansialnya terbatas.

Usaha Anas Nafis, yang pernah mengecap pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (1952-1955), mengumpulkan referensi, terutama tentang Minangkabau, dengan tujuan agar masyarakat Sumbar dan Indonesia tak perlu jauh-jauh mencarinya sampai ke Belanda atau Eropa.

Tahun 1987 ia menggagas berdirinya Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padang Panjang. Niat itu mendapat sokongan dari mantan Kepala Bulog Bustanil Arifin. Lalu, dibangunlah rumah bagonjong untuk dijadikan PDIKM yang sejak itu menjadi salah satu tujuan wisata utama Sumbar.

Kondisi PDIKM saat ini memprihatinkan akibat minimnya perhatian Pemerintah Kota Padang Panjang dan Pemerintah Provinsi Sumbar. Sebagai Direktur PDIKM Padang Panjang sejak tahun 2003, Anas yang mantan guru ilmu alam ini tak bisa berbuat apa-apa kecuali terus menghimpun literatur guna membuka cakrawala masyarakat dalam banyak hal tentang Minangkabau.

Menulis

Di luar itu, Anas Nafis terus menulis artikel tentang hal-hal yang berhubungan dengan Minangkabau di surat kabar Singgalang, menulis pidato adat, menyadur sejumlah naskah dari bahasa Belanda, dan sebagainya.

Tahun 2004, 10 naskah cerita rakyat Minangkabau yang ia sadur diterbitkan Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. Sebelumnya, ia menulis buku Peribahasa Minangkabau (1997) yang sudah cetak ulang berkali-kali. Sejumlah skenario yang ditulisnya sudah difilmkan di TVRI, seperti Dang Tuanku (1975) dan Perang Kamang (1980), serta mengolah cerita dan sinopsis film Palasik untuk RCTI (1997).

Kesungguhan Anas Nafis menghimpun literatur dan lalu mengolahnya, menurut Sekretaris Dewan Kesenian Sumatera Barat Nasrul Azwar, patut dipujikan.

"Tetapi, kami juga prihatin. Sudah ia bekerja tanpa pamrih, kepedulian Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumbar kepada Anas Nafisnya masih kurang. Ia sangat layak diberikan penghargaan dan tanda jasa," ujarnya. Anas Nafis meninggal dunia 18 April 2007 yang sebelumnya dirawat di Rumah Sakit M Djamil Padang.*

SUMBER, YURNALDI, KOMPAS, KAMIS, 6 APRIL 2006

No comments:

Post a Comment