KODE-4

Wednesday, April 18, 2007

Pakarena, Jean, dan Selop

OLEH Halim HD
Usaha untuk mematut-matutkan diri bukanlah suatu yang yang buruk. Seseorang yang merasa ingin dianggap dan menjadi tinggi tubuhnya, bisa saja dia melakukan suatu operasi atau menjalankan terapi, agar tubuh dlihat semampai dan cantik berdasarkan suatu konsep tentang keindahan tubuh. Namun, sering kita juga menyaksikan betapa banyak orang yang kerap memaksakan diri, seperti halnya seseorang yang menyaksikan suatu mode pakaian yang nampak indah dalam suatu lembaran iklan atau siaran teve, dan lalu dia ingin membeli dan memilikinya. Sementara itu, dia tidak menyadari benar bahwa keindahan pakaian yang dilihatnya sudah disesuaikan dengan kondisi tubuh peraga dan juga jamannya.

Nah yang terakhir inilah yang sering mendorong seseorang begitu menggebu-gebu untuk dianggap njamani, mengikuti jaman, dan ingin selalu up to date, maka jaman menciptakan kehendak dan memaksa seseorang tanpa memperhitungkan konteks sejarah dari kondisi dirinya. Demikian juga halnya dengan apa yang terjadi pada sajian tari yang dianggap sebagai tradisi yang telah berumur ratusan tahun: Pakarena, suatu khasanah tari dari geografi kultural etnis Makassar di Sulawesi Selatan yang dipanggungkan pada suatu pembukaan Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa tingkat Nasional) di Makassar oleh rombongan Sulsel. Ini hanya salah satu kasus diantara begitu banyak kasus yang sering terjadi dan dianggap “lumrah”. Disitu kita menyaksikan betapa repotnya para penari Pakarena yang menggunakan selop dengan hak-kaki yang agak tinggi, dan menari di atas karpet warna merah. Maka gerak kaki pelaku Pakarena yang mestinya selalu merapat di atas panggung (baca: bumi, sebagaimana konsep tata ruang dalam Pakarena) selalu tersaruk-saruk. Disitu kita menyaksikan betapa bukan hanya repot bagi penari, tapi lebih dari itu, ada sesuatu yang melewati batas-batas dimana suatu konsep, prinisp didalam khasanah tradisi yang telah teruji oleh jaman, rusak oleh hanya kegenitan penafsir tradisi yang kehilangan kesadaran sejarahnya: selop dengan hak-kaki tinggi digunakan agar penari nampak semampai. Disini, satu catatan penting dari cara pandang feodalisme dan budaya maskulin nampak kuat: penari merupakan kebutuhan pandangan mata dan hiburan kaum laki-laki. Padahal, sepanjang pengetahuan saya, misalnya Mak Coppong, mpu Pakarena dari Desa Kampili, Palangga, Gowa, tingginya kurang dari 150 sentimeter. Dan hal itu ditegaskan pula oleh penafsir tradisi Pakarena, Ibu Andi Ummu Tunru yang menyatakan tidak ada kaitan antara tubuh semampai dengan Pakarena. Prinsip Pakarena terletak pada kapasitas tubuh, posisi manusia, diantara tarikan kaki yang selalu digeserkan antara langit-bumi; kaki senantiasa berada pada gerakan yang mengikuti perasaan yang menangkap gravitasi bumi. Tubuh yang tinggi berapapun, dan besarnya seperti apapun bisa membawakan Pakarena, asalkan mampu menyerap prinsip laku dari khasanah tradisi itu: menyerahkan diri diantara rentang tarikan bumi-langit.
Untuk itu kembali seperti penegasan penafsir dan koreografer Makassar yang menjadi konsultan koreografi I La Galigo karya Robert Wilson, menyatakan bahwa secara sosiologis dengan posisi kaki itu pula menandakan bahwa sesungguhnya Pakarena identik dengan dan berlatar belakang kebudayaan agraris, tarian kaum petani, warga desa, dan bukan seperti kebanyakan orang menyatakan bahwa Pakarena merupakan tarian istana. Ibu Andi Ummu Tunru juga sebagaimana dikutipnya dari Mak Coppong dalam suatu obrolan di rumah mpu Pakarena itu, bahwa Pakarena merupakan satu simpul dari rentangan ritual yang ada di desa-desa di dalam geografi kultural etnis Makassar dalam bentuk ritual Salonreng. Dan upacara atau ritual itu hanya terjadi di wilayah pedesaan dengan tradisi dan latar belakang masyarakat agraris di Makassar. Dan mereka yang menyajikan Salonreng hanya bisa jika telah memasuki kematangan Pakarena.
Kita tentu tahu dan menyadari pula bahwa tradisi bukanlah kata benda. Tapi kata kerja yang senantiasa memasuki ruang yang terus berubah. Dan dinamakan tradisi karena didalam dirinya merupakan suatu bentuk dari proses penafsiran kepada tata ruang yang selalu dipahami dengan penuh intensitas yang tinggi, dan selalu berrangkat dari lingkungannya, ekologi budayanya. Tapi, kondisi khasanah tradisi yang kini kita hadapi dengan penafsiran yang melenceng dari apa yang seharusnya dikerjakan pula kita makin menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang didalam proses kerja. Dan hal itu didahului oleh tak adanya pemahaman yang mendalamsecara kesejarahan: cara berpikir yang pragmatis dangkal serta menggantungkan diri kepada cara pandang bahwa tradisi itu glamour sebagaimana cara berpikir kalangan elite pada jaman feodal yang hingga kini diteruskan melalui dinas pariwisata dan sejumlah pengajar yang telah ikut memanipulasi berbagai kekhasan khasanah tradisi itu sendiri.
Kondisi seperti itu kini berlanjut. Lihatlah betapa ironisnya ketika para penari, yang sudah lulus maupun belum dari lingkungan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) yang selalu ketika latihan mereka menggunakan celana jean. Ibu Andi Ummu Tunru, dalam suatu percakapan santai di warung depan Fort Rotterdam, Makassar, beberapa tahun yang lampau disela-sela menyiapkan Makassar Arts Forum (MAF-99), ketika saya tanya, masalah apakah yang dihadapi di dalam pengembangan dan pelestarian tari Pakarena, beliau menyatakan bahwa kondisi dan situasi kota: gaya hidup, life style! Coba lihat anak-anak sekarang, semuanya pakai celana jean, berkendaraan motor, mengejar angkutan umum, langkah mereka begitu cepat dan lebar-lebar. Hal itu dikarenakan mereka dikejar-kejar waktu. Mereka sudah sulit untuk berjalan perlahan, sulit untuk merasakan sesuatu, misalnya merasakan desiran angin yang bukan hanya sampai hanya dikulit saja, tapi juga kedalam ruang batinnya. Dengan celana jean, pinggul mereka dipepet, dibekap oleh kostum itu. Dan itu membentuk cara berjalan, cara duduk serta persendian yang tidak lagi lentur. Repotnya, kata penafsir tradisi yang kerap diundang untuk mengajar tari Pakarena di mancanegara itu, ketika mereka latihan juga memakai celana jean, disamping digunakan setiap hari di rumahnya. Secara pribadi Ibu Andi Ummu Tunru melarang penarinya menggunakan celana jean ketika latihan, dan bahkan menganjurkan untuk menggunakan sarung atau kain kalau berada di rumah, agar tubuh tidak dibentuk menjadi kaku oleh kostum yang kini dianggap sebagai pakaian yang mengikuti jaman.
Perubahan tata cara dan tingkah laku dalam Pakarena sesungguhnya sudah sejak lama, seperti yang ditengarai oleh DR. Halilintar Lathief, M.Pd., pakar tradisi dan peneliti seni pertunjukan Sulsel, yang menurut pengamatan dan peneelitiannya, sejak program pembangunan diterapkan pada jaman Suharto, dan masuknya pakaian-jadi hasil industri garmen yang dianggap praktis seperti celana jean memasuki wilayah pedesaan pada tahun 1980-an, dan sampai kini makin kuat pengaruhnya. Ada penari Pakarena yang merangkapkan celana jean dengan kain (kostum) tarinya, jelas dosen UNM penulis buku Cermin Perubahan Budaya Orang Makassar Dalam Pakarena. Dan khasanah tradisi itu kini, diantara begitu banjirnya slogan pariwisata, begitu banyak lembaga kesenian yang didirikan oleh pemda, serta adanya lembaga pendidikan tingkat menengah (SMKI) dan perguruan tinggi jurusan Sendratasik, kian ter/di-gusur oleh jaman. Dan ironi ini justeru nampak jelas dari lembaga pendidikan yang terasa sekali tidak menanamkan disiplin dari prinsip-prinsip dan kesadaran sejarah khasanah tradisi kepada anak didiknya. Maka lengkaplah proses ketersingkiran khasanah dari lingkungannya yang dahulu menjadi pengikat pertemuan yang akrab dan menjadi identitas diri.***
Halim HD. – Networker Kebudayaan

No comments:

Post a Comment